Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Visi Keluarga Ilahi

Efesus 5 : 22 — 23
Pernikahan Kristen adalah proyek kehidupan yang harus dimulai dari hasil akhirnya. Apa artinya? Bila kita ingin berhasil dalam membangun pernikahan dan keluarga kita maka kita harus memahami apa sebenarnya tujuan dari pernikahan. Inilah yang dimaksud dengan visi keluarga ilahi. Jadi definisi sederhana dari visi keluarga ilahi adalah tujuan keluarga yang sudah ditetapkan oleh Allah melalui Firman-Nya!

Hal ini seperti membangun sebuah rumah. Langkah pertama dalam kita membangun sebuah rumah justru adalah dengan membayangkan hasil akhirnya. Setelah kita memperoleh gambaran yang sempurna tentang rumah idaman kita, maka barulah kita memulai segala sesuatunya. Alangkah bodohnya bisa seseorang membangun rumah tanpa tahu apa yang dia mau bangun.

Pernikahan kita haruslah menjadi pernikahan yang digerakkan oleh tujuan. Bukan sekedar tujuan yang berdasarkan kehendak kita tetapi tujuan yang sudah ditetapkan oleh Allah sendiri.
Sayangnya, banyak orang Kristen memulai keluarga dengan tujuan yang salah seperti:

1. Menikah untuk seks.
Ini adalah tujuan terbodoh dan rendah karena kita menganggap pasangan hidup kita hanya sebagai obyek pemuas nafsu seksual.

2. Menikah untuk memiliki anak/keturunan.
Menurut prinsip Firman dalam Kejadian 2, keluarga yang lengkap itu terdiri dari satu orang suami dan satu orang istri. Keluarga yang tidak memiliki anak bukanlah keluarga yang tidak sempurna.

3. Menikah untuk mencapai kebahagiaan.
Lebih berbahaya lagi bila kita mengidentikkan kebahagiaan dengan hal yang fana seperti materi dan uang. Seolah-olah semakin banyak harta maka semakin bahagia! Kebahagiaan bukanlah tujuan kehidupan. Kebahagiaan merupakan efek samping yang akan kita peroleh setelah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan terlebih dahulu (Matius 6:33).

Sekarang, mari kita perhatikan teks kita pada ayat 25-27. Di sini, jelas sekali tugas utama seorang suami adalah menguduskan istrinya. Artinya, sang suami haruslah menolong, mendorong, memotivasi, dan mengarahkan sang istri supaya hidupnya semakin mencapai keserupaan dengan Kristus dalam karakternya, sikapnya, dan apapun aspek kehidupannya.

Namun, janganlah kita berpikir bahwa kekudusan hidup hanya berlaku untuk sang istri. Kekudusan hidup pun adalah tanggung jawab dari sang suami. Paulus sudah mengasumsikan bahwa hanya seorang suami yang kudus yang dapat menguduskan istrinya. Itu sebabnya, tidaklah heran sang suami disejajarkan seperti Kristus. Sama seperti Kristus yang kudus, suami pun harus kudus di hadapan istri dan Allah!

Dari penelitian kita atas teks ini, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pernikahan adalah: PENGUDUSAN. Dalam keluarga harus terjadi saling membantu untuk menghasilkan individu-individu yang kudus di hadapan Tuhan!

Janganlah Saudara menilai keberhasilan keluarga Saudara dari seberapa banyak harta yang Saudara berhasil kumpulkan, seberapa tinggi pendidikan anak Saudara, seberapa cantiknya pasangan Saudara. Namun, pertanyaan ujiannya adalah seberapa kudus dan berkarakter ilahinya pasangan hidup serta anak-anak Saudara.

Pesan Firman ini juga penting bagi mereka yang belum menikah. Carilah pasangan hidup yang seiman dan cinta Tuhan. Saudara tidak mungkin saling menguduskan dalam pernikahan bila satu pasangan Saudara tidak memiliki iman di dalam Kristus. Bagaimana dia bisa menguduskan Saudara kalau dia sendiri tidak percaya Tuhan dan tidak memahami arti kekudusan yang alkitabiah?


Oleh : GI. Jimmy Setiawan

Generasi Ilahi yang Perkasa Di Bumi

(Mazmur 127:3-5)
Anak-anak di masa muda adalah seperti anak panah di tangan pahlawan
Perlu dibentuk, dipertajam, diarahkan dengan baik
Hanya pahlawan yang menghargai anak panah. Temukan pahlawan untuk membentuk anak-anak kita
Tuhan sangat menginginkan anak-anak kita menjadi anak-anak pewaris gambar dan rupa Allah.

Allah ingin anak-2 kita dibentuk sehingga memiliki karakteristik :
1.) Menjadi generasi ilahi
Anak-anak telah banyak dibentuk oleh gaya hidup duniawi. Kita perlu memberi gambar diri yang benar atas mereka sebagai gambar dan rupa Allah.

2.) Menjadi generasi perkasa
Tuhan menginginkan anak-anaknya berkembang menjadi pribadi yang superior atas dunia ini. Jika inferior (di bawah level) maka akan hidup tanpa pengaruh dan terintimidasi. Anak-anak perlu dikembangkan prestasi akademiknya (diberi kemampuan belajar), kapasitasnya untuk bekerja dan mengelola uang (diberi dasar-dasar engterpreneurship), dan konsep membentuk keluarga yang benar (diberi konsep bergaul dengan lawan jenis yang benar agar kelak memiliki keluarga yang bahagia). Anak dunia sekarang berani bayar mahal untukmendapatkan kemampuan-2 ini dengan cara-cara yang tidak diperkenan Tuhan. Kita perlu lebih lagi menaikkan daya saing anak-2 Tuhan di tengah dunia ini.

3.) Memiliki attitude (sikap, karakter) yang luar biasa
Anak Tuhan jangan gampang menyerah, rendah diri, tak dapat bergaul, dan tak memiliki tujuan hidup. Sikap hidup menentukan bagaimana mereka akan hidup kelak.

4.) Berbakti kepada orang tua
Jika anak masih bergantung pada orang tua saja berani kurang ajar, bagaimana nanti jika sudah dewasa dan keluar rumah. Anak perlu diajar hormat dan taat pada orang tua, karena hal itu membawa berkat atas hidup mereka

5.) Menjadi duta Kerajaan Allah
Kerajaan Allah ditegakkan melalui para utusan-2 Allah di bumi ini. Anak-2 harus siap membawa panggilan tertinggi dalam kehidupan mereka: memanifestasikan Kerajaan Allah di bumi ini

Menyadari pentingnya membina anak muda, gereja kita mengadakan MAXIMUM GENERATION CAMP di bulan Juli ini. Materi disiapkan untuk menjawab pembentukan kelima karakteristik di atas, memaksimalkan segala potensi dan karakter anak-anak SMP kita hingga usia kerja. Para Hamba Tuhan telah menyiapkan diri untuk menjadi mentor mereka, bak seorang pahlawan yang akan membentuk dan mengarahkan anak-anak panahnya menuju terwujudnya rencana Allah atas diri anak-anak kita. Pastikan anak-anak kita mengikutinya.

Oleh : GI.David Purnomo


Top