Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Kehidupan Ditengah Penderitaan


Dalam Rut1 kita telah melihat bagaimana Rut dengan setia mengikuti Naomi dan Allah, sekalipun ia tak punya harapan apa-apa (suami, kekayaan, dsb). Ini mengakibatkan ia menderita. Bayangkan! Ia adalah seorang janda, miskin, dan hidup sebagai seorang asing di Israel, dan ia harus bekerja berat. Banyak orang ketika mengalami penderitaan berespon dengan salah. Bahkan Naomi (dalam Rut1), juga berespon dengan salah ketika ia mengalami penderitaan. Tetapi berbeda dengan Rut menantunya, Rut berespon dengan benar ketika ia mengalami penderitaan.

Ketika mengalami kesusahan Rut tidak hanya mengharapkan bantuan dan belas kasihan dari orang lain tetapi ia melakukan banyak hal. Apa yang bisa kita pelajari melalui kehidupan Rut?
Rut memiliki inisiatif untuk bekerja memunggut bulir-bulir jelai di ladang. Padahal pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang enak (Catatan: itu adalah pekerjaan yang layak bagi orang-orang miskin pada masa itu).

Rut melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh (ayat 7,15a). Walaupun pekerjaan berat dan tidak menghasilkan banyak, Rut tetap mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh.
Rut memiliki kerendahan hati (ayat 8-9). Rut menyatakan bahwa sebenarnya ia bukanlah orang yang layak untuk mendapatkan kemudahan dan perlakuan baik dari Boas, pemilik ladang itu.

Ternyata ketika Rut berespon dengan benar, ia mendapatkan berkat
Pemeliharaan Allah dinyatakan kepadanya:
- Allah menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang memperhatikan melalui Boas yang memperhatikannya. (ayat 5-17)
- Allah menjawab kebutuhan Rut melalui Boas. (Ay. 8-9; 14-17)

Oleh: GI.Tyas Affandi

Jangan Menjadi Naomi


RUT 1:7-22

Di tengah penderitaannya, Naomi memberikan respon yang salah. Mari kita belajar supaya tidak seperti Naomi ketika kelak badai kehidupan tengah melanda kita.

1.) MENOLAK PERTOLONGAN
Tiga kali Naomi menyuruh pulang kedua menantunya, Orpa dan Rut. Padahal mereka mau mendampingi dan menolong Naomi.

Kita pun seringkali seperti Naomi yang mudah menolak pertolongan dari Tuhan. Kita merasa lebih pandai daripada Tuhan. Ketika solusi dari Tuhan diberikan, kita merasa bukan itu yang kita mau dan butuhkan. Sewaktu kita sakit, kita memaksa Tuhan untuk menyembuhkan kita. Padahal jangan-jangan solusi Tuhan belum tentu kesembuhan fisik karena Tuhan memang mau memakai kelemahan kita.


2.) MENYALAHKAN TUHAN
Naomi juga menyalahkan Tuhan. Bagi dia, Tuhanlah biang keladi atas semua penderitaan yang dialaminya. Responnya bertolak belakang dengan Ayub (Ayub 1:22). Di tengah penderitaannya, Ayub sama sekali tidak berbuat dosa dengan menuduh Tuhan berbuat yang tidak pantas.

Sebenarnya, menyalahkan Tuhan hanyalah merugikan diri kita sendiri karena tinggal selangkah kita pasti meninggalkan Tuhan. Padahal sewaktu kita tinggalkan Tuhan, kita kehilangan sumber kekuatan dan harapan. Kita pun tidak akan melihat akhir rencana Tuhan yang indah karena kita terlanjur marah dan kecewa kepada-Nya.

3.) MELUPAKAN BERKAT
Seperti Naomi, kita mudah sekali melupakan berkat di saat menderita. Tuhan sudah menempatkan Rut dalam hidupnya sebagai kunci pemulihan hidupnya. Namun, Naomi tidak menganggap Rut. Dia berkata, "...dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku..."

Kita harus menyadari bahwa walaupun Tuhan izinkan penderitaan dalam hidup kita, bukan berarti Dia akan meninggalkan kita sendirian seperti yatim piatu. Tuhan pasti menaruh "Rut-Rut" dalam hidup kita untuk menjadi pertolongan bagi kita. Itu sebabnya, janganlah sesekali kita meninggalkan Tuhan. Nantikan Dia berkarya di dalam dan melalui penderitaan kita! 


Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Top