Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Dilarang Menginjil Tanpa Roh Kudus!

(Kisah Para Rasul 1:8)
Dalam Mat 28:18-20, Tuhan Yesus mengutus dan berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman! Namun, jika Tuhan Yesus sudah naik ke surga, bagaimana Dia menyertai kita yang masih di bumi? Dia menyertai kita melalui Roh Kudus (Yoh 14:16). Kita perlu melihat bagaimana Karya Roh Kudus dan hukum 4K dalam penginjilan:

1.) Roh Kudus Memampukan AGEN penginjilan (Kis 4:31)
Dalam Kis 2:1-13 bercerita tentang turunnya Roh Kudus. Setelah Roh Kudus memenuhi para Rasul (Ay.14), Rasul Petrus berdiri di depan orang banyak dan mulai berkhotbah, melakukan KKR masal pertama. Siapakah Petrus? Dia adalah nelayan dari Galilea. Nelayan pada umumnya tidak berpendidikan, tidak punya kuasa, miskin. Kota Galilea kebanyakan tidak pernah ada orang penting/ besar dari kota itu (Yoh 7) dan Petrus adalah seseorang yang pernah menyangkal Tuhan Yesus.

Namun sekarang, dia berani berdiri dengan lantang dan lancar berbicara tentang Kristus. Apa yang menyebabkan Petrus mampu melakukannya? ROH KUDUS! Hukum Ketergantungan: Ketergantungan kita pada Roh Kudus melebihi ketergantungan kita pada metode atau sarana penginjilan apapun. Bukan berarti metode dan sarana penginjilan tidak penting. Sangat penting! Tanpa Roh Kudus, metode/ sarana apapun tidak akan memiliki kuasa.

2.) Roh Kudus Memfokuskan PESAN penginjilan (Yoh 15:26; 16:14)
Kita perlu melihat kembali khotbah pertama Petrus. Apa tema utama khotbah Petrus? Tidak lain dan tidak bukan adalah Kristus (Ay.32). Fokus penginjilan harus selalu tentang Kristus! Roh Kudus selalu menuntun dan menunjukan kita pada Kristus! Kesalahan yang umum terjadi dalam ibadah penginjilan (KKR) adalah fokus pada: Roh Kudus dan manifestasinya, Kemasan, Pengkhotbah itu sendiri. Hukum Kabar Baik: Tujuan penginjilan (dari sisi kita) bukanlah menghasilkan petobat baru melainkan menyatakan atau memberitakan Kristus/ Injil!

3.) Roh Kudus Memastikan HASIL penginjilan (Kis 13:48)
Perhatikan apa yang terjadi pada pendengar khotbah Petrus. Ay.37, “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu...” Kemudian ay.41, mereka meminta diri dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Ini adalah karya Roh Kudus. Perhatikan bahwa khotbah Petrus begitu sederhana. Menurut ukuran homiletika modern, mungkin khotbah Petrus cenderung membosankan. Tidak ada ilustrasi, tidak ada kutipan, tidak ada humor, dsb Namun, efektif sekali, menghasilkan 3000 orang percaya baru. Dalam hal ini, kita perlu memahami doktrin pedestrinasi. Bahwa Allah sudah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat Allah bahkan jauh sebelum dunia dijadikan. Hukum Ketekunan: Kita terus beritakan Injil dan tidak membiarkan apapun hasilnya mendikte semangat kita!

4.) Roh Kudus Mengendalikan MUSUH penginjilan (Kis 8:1b)
Kis 1:8, Tuhan Yesus berkata bahwa kabar keselamatan akan tersebar ke Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ke ujung bumi. Dalam Kis 8:1, kita melihat betapa janji Tuhan Yesus ditepati. Dan ini terjadi melalui penganiayaan. Bagaimana dengan “ke ujung bumi”? Seorang penafsir mengatakan bahwa “ujung bumi” adalah kota Roma. Karena kota Roma adalah ibukota kerajaan terbesar di luar Israel. Ketika Injil masuk ke Roma, ini tandanya Injil sudah menguasai seluruh dunia kuno saat itu. Dan di mana kita menemukan bahwa Injil sudah masuk Roma? Pada pasal terakhir, Paulus berada di Roma karena dipenjara! Kesimpulannya: Allah dapat mengarahkan semua peristiwa buruk yang dibuat musuh-musuh Kristen justru untuk mencapai tujuan-Nya sendiri.

Hukum Kedaulatan: Kita tidak kehilangan semangat ketika penginjilan menghadapi tantangan dan tentangan yang hebat, atau bahkan tampak “gagal”! Sebagai penginjil, kita bukan seperti duta besar. Duta besar memang diutus tetapi tidak didampingi oleh yang mengutus. Kita lebih cocok seperti penerjemah Presiden atau Raja. Kita pergi berdua dan tidak pernah jauh-jauh dari Presiden atau Raja kita ketika bernegosiasi dengan negara tetangga.

Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Gemburkanlah Ladang Tanah Misi


(I Petrus 2 : 9 - 11)

Seperti tanah ladang yang digemburkan (bajak tanah, cabut tanaman liar, dan batu-batu) agar menghasilkan panen yang maksimal demikian pula dalam tanah ladang misi perlu digemburkan pula agar banyak jiwa-jiwa yang bisa dituai.

1. Memahami tempat ladang misi kita
Ladang misi kita bukan lintas benua dan negara kecuali jika ada yang dipanggil untuk menjadi misionari. Sekalipun demikian bukan berarti kita tidak punya ladang misi dan tidak boleh bermisi. Firman berkata,"beritakanlah perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia." Firman ini bukan saja untuk para misionari tetapi kita juga. Ladang misi kita ditempat di mana ada orang-orang yang belum percaya. Itu berarti bisa di sekolah, di rumah, di kantor, dan tetangga. Di tempat-tempat itulah kita bisa bermisi.


2. Menikmati Tuhan menuai ladang misi-Nya
Teks yang kita baca menegaskan takala Tuhan dimuliakan maka Ia akan menuai jiwa-jiwa dan menambahkan dalam bilangan gereja Tuhan. Gereja mula-mula baik yang dicatat dalam Kisah Para Rasul maupun sampai abad ke 6 menyaksikan Tuhan terus menuai jiwa-jiwa sekalipun ada tantangan dari luar.

3. Menggemburkan ladang misi-Nya
Berbeda dengan gereja zaman sekarang, khususnya di GKBJ. Kita merasakan betapa beratnya untuk tuaian terjadi. Masalahnya bukan pada Tuhan melainkan pada orang kristen itu sendiri, yang disebut sebagai pendatang di dunia tetapi tidak tau diri. Sementara dunia mencari alasan untuk menolak kabar baik, gereja malah menyediakan diri untuk dilempari "kotoran" dengan cara gereja atau anak-anak Tuhan memberitakan "kabar buruk" kepada mereka. Hati mereka keras karena anak-anak Tuhan melempari "batu-batu" (fitnah, saling menjelekan, mempertontonkan perpecahan dll) di hati orang yang belum percaya. Mari kita bertobat dan kabarkanlah lagi kabar baik lewat kata-kata yang membangun dan tindakan yang mulia. Dengan kita lakukan hal itu kita sedang gemburkan ladang misi kita. Tuhan berkati.

Oleh: Pdt. Hengky Setiawan

Top