Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Surat Gembala: Raising Godly Generation

Membangkitkan Generasi Ilahi
1 Samuel 2:17  Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.  18  Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

Imam Eli membesarkan 3 orang anak,
Dua orang adalah anak kandungnya sendiri Hofni dan Pinehas.  Keduanya demikian jahat dan sama sekali tidak menghormati Tuhan (2:12).   Mereka memerintahkan para pelayan Bait Allah membawa garpu bergigi tiga untuk mengambil daging korban sembelihan yang sedang diolah, dan memakan daging korban yang untuk Tuhan itu (1:13-16).  Jika umat tidak memberikan korban bakaran mereka, tak segan-segan para pelayan Hofni dan Pinehas akan merebut dengan kekerasan.  Sedemikian berani mereka terhadap Tuhan sehingga jemaat merasa ngeri dengan tingkat laku mereka.  Sampai hari ini garpu bergigi tiga menjadi sebuah legenda sebagai senjata yang dipegang oleh iblis sendiri.  Sangat besar dosa kedua kakak beradik ini di hadapan TUHAN, sehingga berani merampok korban untuk TUHAN.   Bukan itu saja, Hofni dan Pinehas bahkan berani melakukan hubungan seksual di depan pintu Kemah Pertemuan (yakni Bait Allah/Rumah Tuhan waktu itu).  Perzianahan yang keji ini tidaklah ditutup-tutupi bahkan tersiar di seantero jemaat (2:22-23).  Segala nasehat ayahnya tidaklah pernah digubris (2:23-25) sehingga sang ayah akhirnya tidak lagi memarahi mereka (3:13).
Satu anak yang lain adalah Samuel, anak sulung Hana dan Elkana dari Rama.  Hana telah meminta anak ini dari Tuhan (1:20) dan bernazar akan membawa Samuel untuk menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya (1:22).  Selama 3 tahun penuh Hana merawat dan membesarkan anak ini dalam doa dan perhatian, dan kemudian menyerahkan untuk dipakai Tuhan sepenuhnya (1:28).  dalam pengasuhan Imam Eli untuk pelayan Tuhan (1:28).  Maka sejak usia 3 tahun Samuel telah memakai baju efod dari kain lenan dan menjadi pelayan di hadapan Tuhan (2:18).  Demikianlah anak itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan imam Eli (2:11).  Dan setiap tahun ibunya datang membawa jubah efod kecil untuk dipakai anaknya (2:19). 
Berbeda dengan dua anak kandung Imam Eli, Samuel kecil bertumbuah semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia (2:26).  Samuel tumbuh dalam kepekaannya terhadap suara Tuhan, sehingga seluruh umat akhirnya tahu bahwa Samuel telah dipercayakan bukan hanya jabatan Imam (2:35a) yang setia pada Tuhan dan setia melakukan firman Tuhan  (2:35b),  namun juga jabatan nabi Tuhan (3:20).  Segala apa yang difrimankan Tuhan atas diri Samuel semuanya digenapi Tuhan (3:19).
Kisah ini sangat menggugah hati saya.  Tiga anak yang hidup satu generasi di rumah Tuhan di Silo di bawah asuhan seorang Imam.   Namun hasilnya demikian berbeda.  Yang dua menjadi gerenasi yang rusak, menghancurkan iman umat Tuhan, menjadi batu sandungan.  Sementara yang satu menjadi generasi ilahi, membangun dan meneguhkan iman umat Tuhan, menjadi kesaksian dan kemuliaan nama Tuhan.

Dalam konteks zaman sekarang, di dalam Gereja yang sama, bisa muncul anak-anak Ilahi namun bisa muncul pula anak-anak yang brengsek. 
Pertanyaannya adalah:  anak-anak macam apa yang akan dihasilkan oleh Gereja kita?
Jawaban pertanyaan ini melibatkan minimal dua unsur penting:
Fakfor orangtua:  apakah memberikan warisan rohani kepada anaknya seperti Ibu Hana dan Bapak Elkana  atau hanya memberikan tradisi ibadah seperti Imam Eli.  Dalam kasus ketiga anak tersebut, faktor orangtua memegang peranan yang sangat penting.
Faktor lingkungan rohani:  apakah bertumbuh dalam atmosfer rohani dan ada seorang mentor yang meneguhkan dan memperkaya iman sang anak.  Dalam kasus ketiga anak tersebut, mereka menerima lingkungan rohani yang sama.  Artinya faktor ini tidak mengambil peranan yang menentukan.
Kenyataannya kita melihat banyak contoh di Alkitab bahwa anak yang menerima WARISAN ROHANI dari orangtuanya akan menjadi GENERASI ILAHI yang luar biasa.  Selain Samuel, kita mendapatkan beberapa Generasi Ilahi lain yang dibesarkan dalam warisan rohani namun dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mengenal Tuhan – yakni: Musa, Daniel, dan Yusuf.

Mari sebagai keluarga kita berlomba-lomba menanamkan iman pada generasi muda.  Dan sebagai keluarga Allah yakni gereja kita tetap menyiram tiap benih iman bahkan menaburkan benih iman, dan selalu meneguhkan memperkaya iman yang ada sehingga banyak generasi muda yang terselamatkan. Amin.


Oleh: Pdt. David N. Purnomo

Surat Gembala: Memperoleh Hikmat Lebih Berharga Daripada Memperoleh Uang

Kebutuhan hidup itu demikian banyak.  Kebutuhan pokok saja sulit dipenuhi, apalagi ada segudang keinginan dan harapan untuk mendapatkan gaya hidup yang lebih keren dan segala hobi kesenangan kita.  Logika sederhana kita mengarahkan bahwa untuk mencukupi semuanya itu, kita butuh d-u-i-t alias u-a-n-g.  Makanya manusia berlomba untuk cari uang, kejar uang, dan dapat uang lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Tahukah bahwa menggergaji kayu akan lebih mudah jika menggunakan gergaji yang diasah.  Anda tidak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik jika anda tidak mengubah cara hidup anda, cara kerja anda. Anda perlu cara yang baru, hikmat yang baru!

Raja Salomo berkata: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.”  (Amsal 3: 13-14).  Ia mendapatkan kebenaran penting:  jika orang mendapatkan hikmat maka hasilnya akan melebihi emas. 
Ada cara bodoh untuk mendapatkan emas, dengan menipu, dengan kerja keringat, dengan memberikan pemikiran kepada perusahaan, dst.  Namun ada cara lain yang lebih baik, cara yang berhikmat:  mencari perkenan Allah, membangun kepercayaan dari sesama, memiliki nama baik, dst.  Dan orang yang berhikmat akan mendapatkan ‘emas’ dan ‘keuntungan’ yang lebih baik dalam hidupnya. 

Orang yang memiliki hikmat tahu bagaimana hidup dengan baik sehingga di ayat 16 dikatakan “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.”  Pun  di ayat 17 dikatakan “Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata.”

Raja Salomo telah melihat hasil dari mempeoleh hikmat.  Ketika masih muda, ia diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya Raja Daud yang meninggal dunia.  Perkara pertama yang dilakukannya adalah MEMINTA HIKMAT dari Tuhan (1 Raja 3:5-13).  Dan dengan hikmat itulah ia berhasil sebagai seorang penyair, arsitek, dan raja. Penghasilan lebih dari 200 juta dolar AS (sekitar 2 triliun rupiah) per tahun, ia lebih kaya daripada raja mana pun di bumi. Ia membuat semua raja takluk kepadanya, seperti presiden Amerika Serikat yang (dahulu) demikian diperhitungkan kata-kata dan kebijakannya.

Ia menggubah kitab Amsal, Kidung Agung, dan Pengkhotbah Benarlah Amsal 16:16  Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.
 Amsal 8:18  Kekayaan dan kehormatan ada padaku, juga harta yang tetap dan keadilan. 19  Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan.   21  supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka.
Amsal 8:15  Karena aku para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. 16  Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi.
Amsal 8:35  Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. 36  Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut."
Amsal 8:14  Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.

Di bulan Oktober ini kita akan berbicara mengenai hikmat kehidupan yang dari Allah.  Marilah kita mengasihi hikmat, dan tekun mencari dia.
Amsal 8:17  Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.
Karena hikmat memang perlu dicari… bahkan dibeli
Amsal 23:23  Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Pdt David N Purnomo, ST, STh.

Surat Gembala - Proper Theology

Di tengah zaman yang mengedepankan peran manusia, kita seolah menyaksikan peran Allah mulai tergeser jauh kebelakang. Segala sesuatu tampaknya terjadi karena ulah manusia belaka, baik kejadian buruk ataupun peristiwa baik yang terjadi. Segala sesuatu hanya perlu pertimbangan manusia belaka, karena pertimbangan ilahi nampaknya hanya berlaku saat hari minggu di gereja. Dunia nyata tampaknya tidak membutuhkan Tuhan, dan dunia rohani tampaknya hanya berlaku di pekuburan. Dari anak muda hingga orang dewasa tak lagi mempedulikan campur tangan Tuhan dalam peristiwa kehidupan nyata.

Di tengah situasi semacam ini, kami merasa perlu kembali menyegarkan pemahaman kita mengenai Allah. Kita perlu lebih lagi mengenal siapakah Pencipta kita, dan lebih lagi mengalami realitas kehadiran Allah di dunia riil. Bulan November ini kita akan belajar mengenai Doktrin Allah (PorperTheology), yakni bagian dari seri pengajaran sistematika untuk mengenal Pribadi Allah menurut Alkitab. Sungguh pun bagian dari teologia, namun penyampaian di tiap ibadah Minggu tetap menggunakan format kotbah, agar jemaat tetap dapat melihat relevansi dana plikasinya.

Pembahasan akan dimulai dari doktrin Kedaulatan Allah, bahwa Dia adalah pemegang kendali atas segala sesuatu. Dengan rendah hati kita mengakui pemerintahan-Nya atas dunia, dan dengan sukacita kita mempercayai pengaturan-Nya dalam segala perkara yang terjadi. Berikutnya kita akan belajar mengenai Kemuliaan Allah, bahwa segala perkara dicipta dan dibuat untuk satu tujuan utama yakni memuliakan Dia.  Bahwa kemuliaan merupakan salah satu atribut (sifat) Allah yang terpenting, yang membuat seluruh ciptaan tertunduk dalam kekaguman sekaligus tergerak untuk menyatakannya. Minggu berikutnya kita akan disentuh dengan Kesetiaan Allah. Bahwa Dia tetap setia, sungguh pun kita berubah setia. Bahwa Dia tak bisa mengingkari Diri-Nya sendiri – yakni Ia mencintai Anda dan saya.  Itulah sebabnya Allah tetap setia, tidak berubah cinta-Nya kepada kita.  Dan di minggu terakhir kita akan belajar doktrin Providensia Dei atau doktrin mengenai pemeliharaan Allah. Bahwa Allah adalah Allah yang memelihara hidup kita. Dia mengatur setiap detil peristiwa untuk membawa kebaikan bagi kita.  Bahwa Anda dan saya boleh merasa aman dan tenang karena Dia adalah pemelihara yang bertanggungjawab atas hidup dan masa depan kita.

Empat pembahasan di tiap hari minggu ditambah 5B setiap hari dan pembahasan di komsel akan menjadi berkat yang luar biasa untuk kehidupan Anda. Pandangan Anda mengenai Allah akan ditransformasi sehingga iman Anda dikuatkan, harapan Anda diperbesar, kasih Anda kepada-Nya semakin dalam, dan hidup Anda semakin bermakna.  Jangan lewatkan satu minggu pun beribadah, jangan lewatkan satu minggu pun berkomsel, dan jangan lewatkan satu hari pun ber-5B.

Soli Deo Gloria
Segala kemuliaan hanya bagi Allah saja

Oleh: GI. David Purnomo

Dibalik Legenda Valentine

Saat ini hari Valentin telah dirayakan di seluruh dunia sebagai hari untuk mengekspresikan kasih sayang.  Secara spesifik hari ini adalah hari khusus muda-mudi untuk berani menyatakan cinta kepada lawan jenisnya.  Belakangan untuk membuat hari ini dapat dirayakan lebih luas maka dijadikan hari menyatakan kasih sayang kepada orangtua, antar suami istri, bahkan antar kerabat dan teman.  Dari tradisi memberi bunga lambang cinta asmara, diperluas dengan pemberian coklat tanda manisnya hati, bahkan tukar kado sebagai tanda perhatian.  Walaupun pergeseran tradisi ini tampaknya membuat hari valentine tidak lagi spesifik untuk cinta sepasang kekasih namun tanpa disadari justru membuat hari valentine semakin popular.  Dan celakanya, spirit cinta asmara dalam perayaan valentine sebenarnya tidak pernah menjadi pudar.
Legenda hari Valentin biasanya dikaitkan dengan Santo Valentinus.  Namun tahukah anda kebenaran di balik cerita popular sang valentinus ini?  Berikut adalah penelusuran secara mendalam mengenai munculnya perayaan hari Valentin.

1.  PERIODE  ROMAWI  :  Perayaan LUPERCALIS
Perayaan Valentin purba merupakan perayaan musim semi, yakni saat burung-burung mencari pasangan. Di cuaca yang indah saat bunga bermekaran itu, mereka membuat pemujaan kepada dewa Lupercalia.  Perayaan dimulai pada 13-14 Februari, dimana mereka merayakan Juno Februata Sang Dewi Cinta (queen of feverish live).  Para pemuda mengundi nama para gadis untuk menjadi pasangan cinta mereka.  Inilah saatnya Dewa Cupido menembakkan panah asmara yang membuat setiap pasangan bebas bermabuk cinta.  Di tanggal 15 Februari barulah mereka memuja dewa Lupercallia yang gagah perkasa untuk meminta kesuburan dan perlindungan atas hasil tanah dan ternak.  Upacara ini disimbolkan dengan lecutan cambuk pada para wanita dan tindakan-tindakan lainnya.
Apa yang jarang diketahui adalah siapakah tokoh dibalik tradisi ini.  Lupercalia adalah sebutan untuk raja Nimrod sang pemburu perkasa yang meninggikan diri melawan Tuhan (Kej 10:9).  Para arkeolog telah menemukan Nimrod digambarkan sebagai pemburu dengan panah yang kemana pun diiringi seekor anjing ajag (lupus).  Lupercus adalah julukan Nimrod: Sang Pemburu dengan anjing ajag.  Valentinus adalah istilah Yunani yang artinya gagah perkasa, menunjuk keperkasaan sang pemburu yang tak terkalahkan ini.  Nimrod ini telah bercinta dengan ibunya sendiri di musim semi bulan Februari itu.  Cupido sendiri berasal dari kata yunani cupere yang artinya desire atau hasrat yang menggebu.  Cupido adalah penggambaran seorang anak yang dimabuk nafsu.

2.  PERIODE  KATHOLIK
Perayaan Valentin purba (lupercalis) ini merupakan perayaan yang sangat meriah dan ditunggu-tunggu para muda-mudi bahkan masyarakat luas.  Itulah sebabnya tatkala Kaisar Konstanstin menaklukkan Roma, tradisi ini tidak bisa dihilangkan begitu saja.  Kemudian muncullah sebuah kisah tentang Santo Valentinus yang hidup di masa pemerintahan Kaisar Claudius II  (268-270 M).   Kaisar Claudius II manganggap bahwa bala tentaranya akan makin kuat jika tidak menikah.  Akibat dilarang menikah, maka muncullan tradisi kumpul kebo.  Untuk menghindarkan hal ini, para rohaniwan gerejawi menikahkan mereka secara sembunyi-sembunyi  termasuk Santo Valentine.  Naasnya ia ketahuan sehingga dipenjarakan, dipukuli, dan akhirnya dipenggal kepalanya. Namun dalam penjara dia sempat berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang buta.  Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum pelaksanaan hukuman mati di tanggal 14 Pebruari 270, Valentine sempat menulis surat buat kekasihnya yang bertuliskan "from your Valentine.”  Kita tidak pernah bisa mengetahui benarkah kisah ini terjadi, namun legenda ini menjadi pijakan bagi penerimaan keberlangsungan perayaan Valentine di masa Kaisar Konstantin. 
Di tahun 496 M Paus Gelasius I mengukuhkan perayaan ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. 

3.  PERIODE  SEKULAR-HEDONISME
Perayaan ini terus berkembang di Eropa dan meluas ke berbagai daerah yang mereka taklukkan.  Di tahun 1415  M  muncullah tradisi mengirim kartu Valentine.  Dan pada tahun 1537, Raja Henry VIII dari kerajaan Inggris menetapkan tanggal 14 Februari menjadi Hari Kasih Sayang.  Upacara gerejawi yang masih diselipkan pada perayaan Santo Valentin tidak lagi dilakukan.  Dan hari ini menjadi hari khusus untuk muda-mudi menyatakan cinta asmaranya.  Dewa Cupido yang tidak pernah menua menjadi simbol penting sepanjang festival kasih sayang ini.
Dalam perkembangannya, hari valentine ini diekspose dalam drama, film, lagu, dan makin menarik dengan berbagai bentuk cara mengekspresikan cinta.  Bahkan banyak gereja yang latah dengan budaya muda-mudi ini, sehingga harus menyelenggarakannya juga walau dikemas tanpa menyinggung cinta muda-mudi.  Namun demikian, api asmara yang menjadi cirri khas perayaan valentine ini tidak pernah menjadi pudar.  Tidaklah berlebihan jika hari valentine telah memberi sarana dan kesempatan untuk melampiaskan cinta,dan memberi legalisasi untuk membuat pernyataan cinta kepada lawan jenis. 

Menelusuri yang ada di balik legenda perayaan valentine ini, gereja perlu memikirkan ulang apa, bagaimana, dan mengapa mengadopsinya.  Apalagi jika kita menyadari kapan dan bagaimana seharusnya cinta kasih antara pemuda pria dan wanita dinyatakan.  Cinta harus diletakkan pada konteks yang tepat.  Cinta antara pria dan wanita harus dinyatakan dalam kedewasaan, eksklusif untuk seseorang, dan dalam konteks pranikah.  Cinta antara pria dan wanita tidak boleh disampaikan dalam konteks pergaulan biasa, yang bisa membara sesaat untuk kemudian layu.   Istilah keren seperti “Jesus is my valentine” tampaknya akan lebih mempublikasikan “valentine”-nya daripada kasih kita kepada Yesus.  Kasih persahabatan juga tidak perlu diungkapkan menunggu datangnya valentine.  Kalau tokh kita perlu memiliki hari kasih sayang, tidakkah Paskah merupakan kasih sayang tertinggi, terkudus, dan termulia yang diperagakan Sang Kasih untuk Anda dan saya?!!




GI David N Purnomo, ST, STh.

Surat Gembala - Memasuki Tahun 2013 Bersama Tuhan

Ketika saya mengikuti konferensi hamba Tuhan di SAAT 2 bulan yang lalu, ada isu menarik yang disampaikan disana:  Amerika tengah menuai generasi yang meninggalkan Tuhan.  Survei lapangan dan berbagai riset menunjukkan hal yang sama:  
Penduduk protestan di Amerika mencakup 52% penduduk, namun yang beribadah hanya 28%
Survey Gallop: sepanjang tahun 1994-2004 penduduk Amerika bertambah 18%, namun ironisnya jumlah jemaat berkuarang 3%
Southerh Baptist convention: jumlah baptisan 2008 sama dengan jumlah baptisan tahun 1950.  Padahal jumlah penduduk dari 150 juta menjadi lebih 300 juta
·         Pertobatan baru sudah berhenti
·         A generation of DROP-OUT: jemaat yang sudah ada justru keluar.
o   70% yang meninggalkan gereja adalah anak-anak muda berusia 18-22 tahun
o   Jutaan usia 18-29 meninggalkan keterlibatannya di dalam gereja

Gejala yang sama sudah diteliti, dan rupanya berkembang juga di seluruh Asia.  Di sebuah gereja besar di Jakarta, didapatkan sharing betapa sulitnya mengajak orang Kristen ke gereja.  Mereka tidak mengalami sesuatu yang berarti dengan kehadirannya di gereja.  Dari orang tua hingga anak muda, mereka mengalami kesuaman rohani tingkat tinggi, dehidrasi rohani yang akut.  Di sebuah kota kecil di Kalimantan, didapatkan data yang lebih ekstrim.  Dari 3500 anak sekolah minggu, yang masih hadir di ibadah remaja tinggal 200, dan di pemuda tinggal 30-50 orang.  Lebih mudah menjangkau jiwa daripada memelihara jiwa.  Di dunia kampus kristen, hal yang sama terjadi juga.  Para mahasiswa yang mayoritas berasal dari SMU Kristen dan keluarga Kristen, ketika diberi provokasi untuk meninggalkan imannya – ternyata mereka demikian mudah goyah iman dan menyangkal Tuhan.  Menyedihkan!

Apa yang dipaparkan dalam konferensi para hamba Tuhan ini tentu saja sangat menyentak kita.  Ada yang salah dengan gereja hari ini.  Gereja tidak lagi menghadirkan Kristus kepada jemaat-Nya.  Gereja menjadi corong sorgawi untuk menyampaikan tuntutan moral, tuntutan misi, dan berbagai kewajiban agamawi lainnya – namun tidak membawa Kristus sebagai Pribadi kepada jemaat.  Jemaat tidak terlatih untuk punya pengalaman rohani bersama Dia. 

Anda bisa melakukan tes sederhana:  mintalah jemaat dalam sel Anda untuk sharing pengalaman rohani apa yang dialami dalam minggu ini.  Bukan sekedar sharing pergumulan, namun sharing pengalaman.  Bukan pengalaman spektakuler yang terjadi belasan tahun yang lalu, namun pengalaman fresh (segar) yang terjadi baru-baru ini.  Mungkin mereka akan menunjukkan wajah kebingungan, mencoba mengelak, berpikir keras, dan akhirnya senyum kecil dan berkata, “orang lain saja yang sharing, ya…”

Jadi dalam pimpinan Tuhan – para pemimpin GKBJ Taman Kencana menyerukan kepada seluruh jemaat: mari alami Tuhan.  Tuhan bukan cuma teori dan konsep.  Ia nyata, Ia adalah Pribadi yang mau membangun pengalaman bersama Anda.   Ya…. Alamilah Tuhan Yesus!

Masukilah tahun 2013 ini bersama Tuhan. 
Selamat membangun pengalaman dengan Tuhan Yesus. 
Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Oleh. G.I. David N. Purnomo

Bulan Ibadah

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim 3:1, 5)

Sebagai seorang rasul, Paulus menyatakan sebuah nubuat yang
mengerikan yang akan melanda manusia di zaman akhir: akan datang masa yang sukar. Mengapa? Karena manusia akan MENJALANKAN IBADAH, namun hanya secara lahiriah. Mereka datang ke gereja, mereka menaikkan doa, mereka memuji Tuhan, mereka mendengarkan kotbah – namun cuma secara lahiriah. Mulutnya melantunkan doa dan nyanyian, tapi tidak ada roh di dalamnya. Tangannya terangtkat menyembah Tuhan, tapi hatinya entah kemana. Kepalanya tertunduk penuh penghormatan, namun isi kepalanya sedang terkantuk-kantuk dan melamun. Betapa mengerikannya orang yang ‘tampak beribadah’ padahal tidak beribadah sama sekali.

Akan datang masa yang sukar karena kesuaman rohani meraja lela dalam gereja Tuhan. Kemunafikan yang mementingkan penampilan luar akan menjadi tren warga gereja. Ritual dan simbol-simbol agama diperagakan tanpa makna dan penghayatan lagi. Kita harus menjauhi sikap semacam itu, mencegah tren kesuaman rohani masuk dalam ukuran yang paling kecil sekali pun.

Itulah sebabnya setiap tahun kita menggelorakan kembali semangat ibadah yang penuh antusias. Dari ayat di atas, kita melihat bahwa dalam ibadah yang sejati itu terkandung sebuah kuasa. Tentu saja! Jika Allah sungguh-sungguh hadir dalam ibadah kita, bertahta dalam pujian umatNya, berbicara dalam kewibawaan firmanNya, menyapa umat yang tengah berdoa – tentu saja akan terjadi hal-hal yang besar. Yang putus asa mendapat kekuatan baru, yang kesusahan mendapat penghiburan, yang mengalami permasalahan hidup dilepaskan. Ada kuasa dalam ibadah yang sejati.

Jadi, marilah kita beribadah – bukan sekedar secara lahiriah. Mari kita belajar esensi ibadah yang sejati melalui minggu demi minggu sepanjang bulan Juli 2011 ini. Dan mari kita alami kuasa dalam ibadah kita. Tuhan Yesus memberkati ibadah kita. Maranatha!


Oleh: GI. David N. Purnomo
(Gembala Sidang GKBJ Taman Kencana)

Bulan Misi GKBJ Taman Kencana

Shalom Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Bertepatan dengan peringatan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, Allah menyampaikan pesan kepada jemaat untuk mengingat fungsi kita sebagai tubuh Kristus di dunia ini. Di dalam tubuh jasmani Tuhan Yesus saat di dunia, berdiam seluruh kepenuhan Allah (Kolose 2:9). Hal itu membuat tubuh jasmani Kristus membawa dampak yang sangat besar bagi siapapun yang mengenal Dia. Tubuh jasmani Kristus telah dipakai Allah untuk menyembuhkan yang sakit, menjamah yang terluka, mengusir kuasa jahat, dan melepaskan manusia dari belenggu dosa.

Kini tubuh Kristus di dunia dinyatakan di dalam Gereja-Nya. Di dalam Jemaat berdiam seluruh kepenuhan Kristus (Efesus 1:23a). Adalah maksud Allah untuk mengerjakan misi Ilahi yang sama bagi dunia ini melalui jemaat-Nya. Untuk membawa orang kepada keselamatan, kesembuhan, pemulihan, dan menikmati kasih karunia sorgawi - tidak bisa dengan berdoa meminta Allah melakukannya, karena untuk melakukan semua itu Allah membutuhkan Tubuh-Nya di dunia ini yaitu: jemaat. Jemaat kepenuhan Kristus ini dipanggil di tengah dunia untuk memenuhi semua dan segala sesuatu (Efesus 1:23b).

Untuk itulah sepanjang bulan Juni ini, kami para pemimpin mengajak seluruh jemaat untuk terlibat dalam misi tubuh Kristus di dunia ini, khususnya dalam membawa berita keselamatan atas komunitas unbelievers (komunitas orang yang belum percaya) yang kita miliki disekitar kita. Berikut adalah panduan praktisnya:
Jadilah misionaris di komunitas kita, dengan memberitakan perbuatan yang besar dari Allah dan memiliki cara hidup yang baik (I Petrus 9-12)

Pergunakan kuasa Roh Kudus yang memampukan kita sebagai saksi Kristus yang efektif
Jika Anda telah memiliki rekan/ saudara yang siap untuk diperkenalkan kepada Kristus (buah yang matang), anda dipersilahkan menghubungi Departemen Misi untuk mendatangkan “Tim Penjangkauan Jiwa” (TPJ).

Bangunlah “komunitas berdampak” (KODAM) di lingkungan kita tinggal. Anda hanya perlu menunjukkan identitas rohani Anda, khususnya melalui doa. Lakukanlah bersama dengan orang percaya dalam lingkungan Anda tinggal, dan nantikan saat dimana Tuhan menarik jiwa-jiwa kepada Salib Kristus.

Kami berdoa agar TPJ dan KODAM yang mulai diluncurkan di bulan Juni ini akan terus berkembang dan semakin matang, sehingga menjadi ujung tombak dari tubuh Kristus dalam memenangkan dunia ini. Maranatha.

GI. David N. Purnomo
(Gembala Sidang GKBJ Taman Kencana)

Tangan Menggenggam - Tangan Terbuka

II Kor 9:11; 8:1-11

Bayi merasa nyaman saat tangan menggenggam. Orang berkata : manusia lahir dengan naluri untuk MEMPERTAHANKAN (MILIK SENDIRI) dan naluri untuk MENGAMBIL (MILIK ORANG LAIN)

Ini tidak benar! Kisah Kyrie dan Brielle menunjukkan manusia terlahir dengan naluri untuk memberkati, melindungi, mengasihi, memberi.


Manusia adalah gambar dan rupa Allah yang telah rusak. Namun naluri ilahi itu masih ada, walau tercemar oleh dosa. Dunia berusaha untuk menumbuhkan naluri menggenggam ini, namun sebagai ciptaan baru kita harus mengembangkan naluri untuk memberi -sama seperti Bapa Sorgawi yang penuh dengan kemurahan.

Ada tiga jenis manusia di dunia ini :
Manusia egois : Apa yang saya bisa dapat dari orang lain
Manusia individualis : Hidup hanya memikirkan kepentingan sendiri
Manusia altruis : Apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain

Jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya dalam berbagai hal: pengetahuan, iman, dan keuangan. Saat itu Paulus menggugah hati jemaat-jemaat di Asia Kecil untuk menolong. jemaat Yerusalem yang dalam kesulitan besar karena penganiayaan. Banyak jemaat meresponi dengan penuh kemurahan hati, namun jemaat Korintus justru tidak menunjukkan tindakan yang diharapkan. Itulah sebabnya Paulus kemudian memberikan pengajaran khusus sepanjang pasal 8 dan 9, sembari memberikan keteladanan dari jemaat Makedonia.

Enam Prinsip dalam pelayanan kemurahan hati :

Memberi adalah masalah HATI : bukan masalah dompet/seberapa yang kita miliki. Jangan tunggu kaya baru memberi.

Memberi dalam KEKURANGAN : bahkan dalam keadaan sangat miskin dan ditimpa pelbagai pencobaan, mereka tetap mendesak untuk terlibat dalam pelayanan kemurahan ini

Memberi dengan memandang ALLAH : pemberian dengan memandang manusia/gereja/lembaga, pasti mengundang pamrih. Mereka memberi diri dengan memandang Allah.

Memberi kepada SESAMA : Hati yang penuh kemurahan itu harus diuji (8:8, bdk 8:22) dengan diperhadapkan pada penderitaan dunia. Hati mereka digerakan oleh Allah untuk salurkan kepada jemaat Yerusalem.

Memberi adalah suatu KESEMPATAN : tidak selamanya orang perlu dibantu, gereja butuh sumbangan. Kalau mereka sudah datang meminta, ini berarti kesempatan untuk member.


Memberi dari YANG ADA : berilah dari yang ada. Ada seribu, berarti anda punya kesempatan berbagi dari yang seribu itu.

Kita ada di dunia ini bisa menghasilkan sejuta kehidupan, bisa juga menghancurkan sejuta kehidupan

Sikap saat dalam kebutuhan :
Tidak mau ditolong = SOMBONG. Kita ada untuk berbagi dengan sesama. Jika ada kebutuhan, ungkapkan pada sesame / rekan komsel.
Pemberian = tongkat penopang, bukan KAKI. Berdoalah agar hidup anda dipulihkan, dan anda bisa berdiri sendiri kembali bahkan akhirnya jadi saluran berkat.

Orang mati dengan tangan yang terbuka. Aleksander Agung menyadarinya menjelang ia mati. Bagaimana dengan anda ?

Oleh : GI. David Purnomo


Top