Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Diampuni dan Dilupakan


Pengkhotbah : G.I Jimmy Setiawan
Nats : Imamat 16 (Hari Raya Pendamaian)

Kitab Imamat bisa dikatakan sebagi salah satu dari berbagai kitab yang paling membosankan. Banyak orang mengira bahwa kitab ini tidak ada relevansi nya dengan zaman kita hidup sekarang. Tradisi-tradisi dan peraturan yang dulu dilakukan tidak lagi berlaku sekarang ini. Jadi seringkali kitab ini diabaikan. Namun, lewat firman Tuhan kali ini, kita mau belajar kitab Imamat sebagai bayang-bayang atau gambaran mengenai Kristus itu sendiri. Kita juga mau belajar bahwa ternyata kitab ini juga tidak kalah penting seperti kitab-kitab lainnya.

Ada 4 manfaat mempelajari kitab Imamat:
  1. Semakin disadarkan akan kekudusan Tuhan. Kalau baca Imamat, banyak sekali peraturan mengenai kekudusan, hal-hal yang najis atau haram, hal tentang pengudusan diri, pengakuan dosa dan melakukan ritual persembahan korban sebagai penebusan, itu semua dilakukan karena Allah maha Kudus sehingga haruslah kita kudus. Contohnya baca Imamat 11:44-45.
  2. Semakin takut dan tidak sembarangan. Banyak peraturan juga mengenai kekudusan yang harus ditaati, jika tidak konsekuensinya mati seperti kisah dua anak Harun yang mati (Imamat 10:2). Jadi melalui kitab ini, kita belajar untuk tidak sembarangan menghadap hadirat Allah, ataupun dalam menjalani hari-hari kita sebagai orang percaya kita akan lebih taat dan takut akan Allah.
  3. Semakin mengasihi & menghargai sesama. Kitab ini juga berbicara mengenai hubungan dengan sesama seperti perlakuan terhadap orang miskin, perkawinan atau hubungan suami istri.
  4. Semakin menghargai dan mengasihi Kristus. Nah poin ke 4 ini yang akan lebih dibahas lebih lanjut dari nats Imamat 16.

Hari Raya Pendamaian

Hari terbesar orang Israel adalah Hari raya pendamaian (The day of Antonement). Dikatakan bahwa hari ini adalah sabat dari hari sabat (Sabath of sabath). Hari Sabat saja dikatakan hari yang sangat penting bagi agama Yahudi waktu itu, terlebih lagi sabat dari hari sabat. Dalam waktu sekali setahun yakni hari ke sepuluh bulan ke-7, Imam Besar harus masuk ke dalam ruang maha kudus. Imam Besar tersebut yakni Harun pada waktu itu haurs melakukan ritual penyucian diri sebelum masuk ke dalam ruang maha kudus. Ruang maha kudus itu tidak boleh sembarang orang yang masuk, hanya boleh Imam Besar dan itupun Imam Besarnya harus menyucikan diri terlebih dahulu dan mempersembahakan korban penghapusan dosa baginya sendiri dan keluarganya (ay.6).

2 Ekor Kambing

Harun kemudian harus membuang undi atas kedua kambing jantan dan membuang undi atas kedua kambing itu. Sebuah undi bagi Tuhan dan sebuah bagi Azazel. Kambing jantan yang kena undi bagi Tuhan akan diolah dan dipersembahakn sebagai korban penghapusan dosa. Sedangkan kambing jantan yang kena undi bagi Azazel, akan dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun. (Nb: Azazel dari beberapa penafsir/ilmuwan ada yang mengatakan bahwa artinya nama Iblis dan ada yang mengatakan bahwa itu adalah nama tempat yang mysterious, kejam, dan tidak bertuan.) 
Kambing jantan yang kena undi bagi Azazel itu disebut juga dengan scapegoat (kambing hitam walaupun sebenarnya tidak bewarna hitam). Nasib kambing itu akan jadi seperti ini: Harun akan meletakkan tangannya diatas kepala kambing tersebut dan menyebutkan dosa-dosa orang Israel satu persatu selama satu tahun itu (transfer kesalahan/dosa ke kambing), kambing jantan itu mengangkut segala kesalahan Israel, lalu kambing itu dibawa ke padang gurun atau sejauh-jauhnya dari perkemahan bangsa Israel dan dilepas (note: kambing bukan seperti anjing yang bisa pulang sendiri setelah dilepas jauh dengan alat penciumannya yang tajam). 

Apa makna dari nats ini?
  1. Sosok Imam Besar
    Penebusan dosa di hadapan Allah perlu mediator. Zaman dulu Imam Besar lah sebagai mediatornya. Dosa manusia akan membuat kita mati jika kita dekat dihadirat Tuhan. Mediator haruslah orang yang suci, sehingga ia tidak mati dan bisa berhubungan dengan Allah. Sosok Imam Besar yakni Harun adalah bayang-bayang peran Imam Besar kita yang sejati yaitu Yesus Kristus. Tidak ada yang sempurna selain Yesus, Harun masih belum sempurna. Harun membawa korban penebusan untuk menghapus dosa-dosa, namun sesungguhnya korban itu tidak dapat sepenuhnya menghapus dosa, tetapi hanya membersihkan kenajisan umat Israel secara fisik. Kalau Tuhan mau mengampuni umat Israel itu pun karena anugerah Tuhan. (Ibrani 9:13), tetapi Yesus mengorbankan nyawanya untuk menebus dosa kita secara total.  Itu sebabnya kita tidak perlu membawa kambing setiap kita ke gereja, karena Yesus telah membawa darahnya sendiri. Ingat ketika Yesus menghembuskan nafas terakhirnya, tirai yang membagi ruang kudus dan mahakudus robek, yang merupakan symbol penting dimana sekarang kita bisa berhadapan dengan Bapa di Sorga melalui pengorbanan Kristus.
  2. Kedua Ekor Kambing
    Mengapa perlu ada 2 ekor kambing? Mengapa tidak hanya kambing yang sebagai korban tebusan? Tetapi harus ada kambing yang harus mengangkat segala kesalahan umat Israel?
    Kedua kambing tersebut menunjukkan:
    a. Kambing pertama menunjukkan Yesus mengampuni kita (kambing penebusan dosa : Yesus menebus dosa kita).
    b. Kambing kedua yang diserahkan kepada Azazel itu menunjukkan apa yang Yesus lakukan. Yesus bukan sekedar mengampuni kita, tetapi Yesus melupakan dosa kita (itu sebabnya kambing hitam itu dibawa jauh-jauh) artinya Dia tidak akan memperhitungkan dosa-dosa kita. 

Ayat-ayat alkitab perjanjian lama :


  • Yes 44:22 “Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!”
  • Mikha 7:19 “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”
  • Yes 38:17 “Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu”
  •     Yes 31:34 “…sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

  •     Maz 103:12 “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”


Ayat di perjanjian baru :

  • 2 Kor 5:19 “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”
  • Kol 2: 13-14 “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.”
Undangan : Bersyukur dan Bebas
Tuhan telah menghapus dosa kita secara total dan tidak lagi memperhitungkan dosa-dosa kita. Maka seharusnya kita hidup dengan hati yang bersyukur dan bebas.
Belajarlah untuk bersyukur dan mengingat akan anugerah Tuhan atas hidup kita. Jangan jadi orang Kristen yang tahunya hanya menuntut, namun isilah hari-hari dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Bersyukur merupakan suatu alat ukur untuk melihat bagaimana kondisi kerohanian kita. Bukan hanya bersyukur, tetapi juga bebas. Bebas dari intimidasi masa lalu kita. Kalau Tuhan saja mengampuni dan melupakan dosa kita, seharusnyalah kita tidak boleh membiarkan diri kita terintimidasi dengan dosa-dosa masa lalu kita.

Ditulis oleh: Kezia Yuseli
http://catatanfirmantuhan.blogspot.com/2015/05/diampuni-dan-dilupakan.html

Pengantar Masa Adven dan Natal 2013


FOR UNTO US
(TELAH LAHIR BAGI KITA)

YESAYA 9:5
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Saya pertama kali mendengar ayat ini dari salah satu lagu Oratorio terkenal berjudulMessiah karangan George Frideric Handel (1685-1759). Saya mendengarnya sejak lebih dari 25 tahun lalu. Lagu tersebut memakai ayat ini sebagai liriknya. Awalnya, saya suka sekali pada musiknya yang megah. Namun, seiring waktu, saya mulai mengagumi liriknya yang memang diambil dari ayat ini. Dari seluruh nubuat Perjanjian Lama atas Tuhan Yesus, ayat ini termasuk nubuat teragung yang sudah dinyatakan 700 tahun sebelum Dia lahir.

Dalam kehidupan kita, pemberian nama bukan hal yang sepele. Nama yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya mengandung harapan mereka atas anaknya itu. Demikian pula dalam Alkitab, penamaan tokoh-tokoh Alkitab mengandung makna dan tujuan dari setiap orang tersebut. Waktu Allah menamai seseorang, Dia sedang menetapkan jatidiri dan arah kepadanya.

Apalagi penamaan Allah Bapa atas Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal. Tahukah Anda bahwa Tuhan Yesus memiliki lebih dari seratus nama dan julukan di sepanjang Alkitab? Setiap nama dan julukan dari Tuhan Yesus menyampaikan satu aspek tentang Dia. Hans Nicoley dengan tepat mengatakan, “Keindahan, kesempurnaan, dan keagungan Tuhan Yesus yang tiada tandingannya itu tidak akan cukup dieksresikan oleh satu nama saja!” Itu sebabnya, merenungkan setiap nama atau julukan Tuhan Yesusakan memperluas pengenalan kita tentang Dia dan memperdalam penyembahan kita kepada Dia.

Dalam Adven tahun ini, kita akan mengupas empat nama dari Tuhan Yesus yang diungkapkan oleh YESAYA 9:5. Empat nama Tuhan Yesus, yaitu Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai akan dibahas satu per satu selama empat Minggu Adven.

Lebih lanjut, keempat nama yang istimewa dari Tuhan Yesus ini bukan sekedar menjelaskan siapa Dia tetapi apa relevansinya untuk kita, umat-Nya. Keempat nama-Nya menuntun kita untuk melihat Dia sebagai Allah yang peduli akan kita. Itu sebabnya, ayat ini dibuka dengan frase “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita…”

Sebagai Penasihat Ajaib, Dia selalu membimbing kita dalam segala kekayaan hikmat-Nya. Sebagai Allah yang Perkasa, Dia senantiasa melindungi kita menghadapi segala bahaya dan semua musuh. Sebagai Bapa yang Kekal, Dia setia mengasihi, mengayomi, dan memelihara kita. Sebagai Raja Damai, Dia memberi kita harapan dan ketenangan yang sejati di tengah badai kehidupan.

            Doa saya, semakin Anda mengenal Kristus maka semakin hati Anda mencintai Dia. Sebab, Natal adalah momen di mana kasih Kristus membangkitkan kasih kita kepada-Nya kembali.

            Selamat memasuki masa persiapan Natal. Dan selamat Natal 2013!

GI. Jimmy Setiawan
Gembala Ibadah GKBJ Taman Kencana


Berhentilah Memaklumi Dosa!

Pesan Gembala Ibadah Untuk Memasuki Masa PraPaskah
Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Mulai tanggal 13 Februari 2013, umat Tuhan di seluruh dunia memulai masa PraPaskah. Inilah masa untuk menyadari, mengakui, dan meninggalkan dosa-dosa kita. Semangat pertobatan kembali ditumbuhkan selama sekitar tujuh minggu kedepan sampai Minggu Paskah.

Untuk menolong jemaat GKBJ Taman Kencana dalam melakukan pembersihan dan pembenahan diri, pemimpin gereja ini mencanangkantema besar sebagai fokus yaitu “DOSA-DOSA YANG DIMAKLUMI” (respectable sins). Istilah ini diambil dari buku Jerry Bridges dengan judul yang sama. Maksudnya adalah dosa-dosa yang selama ini kita anggap enteng sehingga kita menoleransi keberadaannya dalam hidup kita. Kita juga tidak lagi terganggu sewaktu melakukan dosa-dosa itu.

Selama beberapa Minggu, pelbagai contoh dosa ini akan dikupas melalui khotbah antara lain dosa pamer (17 Februari), dosa “memandang muka” atau “pilih kasih” (24 Februari), dosa “berbohong demi kebaikan” (3 Maret), dosa kikir (10 Maret), dan dosa keras kepala (17 Maret).

Selain seri khotbah, masa PraPaskah juga diisi dengan pelbagai ibadah khusus antara lain:

-          Ibadah Rabu Abu, 13 Februari, dengan tema “Masihkah Anda Peka Terhadap Dosa?” Dalam ibadah ini kita akan kembali menerima abu di kening kita sebagai suatu pengingatan bahwa kita adalah makhluk yang fana.

-          Ibadah Kamis Suci, 28 Maret, dengan tema “Roh Penurut Tapi Daging Lemah”.

-          Ibadah Jumat Agung, 29 Maret, dengan tema “Saat Neraka Terbungkam”. Dalam ibadah ini kita akan bersama-sama mengikuti Perjamuan Kudus.

-          Puncaknya pada Minggu Paskah, 31 Maret, dengan tema “Selalu Ada Harapan”.

Pemimpin juga mengajak seluruh jemaat untuk berpuasa bersama pada setiap hari Jumat (15, 22 Februari, 1, 8, 15, 22, dan 29 Maret). Totalnya ada 7 kali kita berpuasa korporat. Kita akan berpuasa dengan tidak mengkonsumsi makanan padat sama sekali (solid food) dari jam 08.00 pagi sampai jam 06.00 sore. Hanya diperbolehkan minum.

Biarlah melalui berita Firman, ibadah khusus, dan disiplin puasa selama masa PraPaskah ini, kita dihantar Tuhan menemukan apakah ada dosa-dosa seperti itu dalam kehidupan kita. Biarlah kita semakin tertantang untuk mengejar kekudusan yang ditandai dengan kita tidak lagi memaklumi dosa-dosa itu.

Selamat memasuki masa PraPaskah!

Hikmat Allah dalam Memilih



“Hikmat Allah dalam Memilih”
Oleh: GI Jimmy Setiawan

Kisah Para Rasul 1:12-26

Latar belakang:
  Kesebelas Rasul mencari pengganti Yudas Iskariot untuk menjadi pemimpin tertinggi bagi gereja mula-mula.
  Mengapa harus duabelas? Karena ini adalah simbol dari duabelas suku bangsa Israel. Dari duabelas rasul inilah, Allah mau memulai umat pilihan yang baru yaitu gereja. Petrus memahami kebenaran ini. Ketika dia menuliskan 1 Petrus 2:9 (merujuk pada Keluaran 19:5-6), dia memandang gereja sebagai bangsa “Israel” yang baru. Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa keduabelas Rasul akan menghakimi keduabelas suku Israel (Lukas 28:30).
  Pengganti Yudas sangatlah penting karena ini menyangkut pemimpin tertinggi bagi gereja yang kelak akan ditahbiskan ketika Roh Kudus datang di hari Pentakosta.

Prinsip fundamental:
  Tuhan yang memilih pemimpin gereja (“...tunjukanlah...”) karena Dia yang mengenal hati para pemimpin (ayat 24; bandingkan dengan 1 Samuel 16:7).
  Hati lebih penting daripada kemampuan atau karunia! Karena hati menyangkut aslinya seseorang. Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati juga bersangkutan erat dengan karakter karena karakter adalah sikap hati yang termanifestasi melalui perilaku kita. Kalau kita baca kriteria penilik jemaat dari 1 Timotius dan Titus, hampir semuanya kriteria tentang karakter. Hanya satu kriteria yang berhubungan dengan kemampuan yaitu “harus cakap mengajar” (1 Tim 3:2). Dan hanya satu kriteria yang berhubungan dengan pengetahuan yaitu harus berpegang pada pengajaran yang sehat (Titus 1:9).
  Paradigma: Kita bukanlah pemilih namun Allah sendiri yang memilih. Ini penting, karena kalau kita sadar Allah yang memilih maka kita akan serius dalam mencari isi hati Tuhan.

Bagaimana caranya?
1.  Kita harus berdoa.
  Kita berdoa karena kita tidak bisa melihat hati manusia. Hanya Tuhan! Ini pelik: Hati begitu penting tapi kita tidak dapat mendeteksi hati manusia secara sempurna. Sewaktu wawancara, saya menemukan jawabannya bagus-bagus. Bukannya saya tidak percaya, namun kadang memberikan jawaban bagus itu mudah tapi bagaimana hati para calon, saya akui saya tidak bisa menebak secara baik.
  Memang tidak terlalu jelas apakah mereka semata-mata berdoa untuk mencari pengganti Yudas ataukah ada hal lain yang mereka doakan, namun kalau kita lihat paralelisme teks ini dengan Lukas 6:12-16, maka ada kemungkinan mereka sedang mendoakan pengganti Yudas.
  Mereka mengikuti teladan Tuhan Yesus yang berdoa sebelum memilih para Rasul (Lukas 6:12-16).
  Mereka bertekun dalam doa. Perhatikan ayat 15, “Pada hari-hari itu...” Ada beberapa hari sebelum Petrus memprakarsai pemilihan.
  Mereka juga bersehati dalam pergumulan. Bahasa aslinya “homothymadon” yang arti harfiahnya “dengan satu perasaan dan pikiran”.
  Doa harus menjadi insting kita setiap kali kita dalam momen-momen krisis atau pengambilan keputusan yang sangat penting. Robert Stein, penafsir Lukas-Kisah Rasul, menyimpulkan bahwa Tuhan Yesus dan gereja mula-mula selalu berdoa setiap kali mereka menghadapi pilihan penting yang harus mereka putuskan.
2.  Kita harus memakai kriteria obyektif (1 Timotius 3:1-7; Titus 1:5-10).
  Dalam cerita ini, para Rasul menetapkan kriteria yaitu haruslah orang yang mengikuti Tuhan Yesus sejak baptisan sampai Yesus diangkat ke surga.
  Bersyukur bahwa gereja kita sudah memiliki kriteria obyektif yang berasal dari panduan FT.

Bagaimana dengan mekanisme akhir dalam memilih? Mengapa tidak membuang undi seperti para Rasul? Karena kita sudah memiliki Roh Kudus dan Alkitab.

Saya mungkin masih bisa menerima metode membuang undi dalam kasus-kasus tertentu tetapi dengan syarat: Buang undi benar-benar langkah terakhir ketika semua proses pergumulan tidak dapat membawa kita pada suatu keputusan yang sungguh-sungguh kita yakini. Dalam cerita kita: Buang undi dilakukan setelah mereka berdoa dan menseleksi calon dengan kriteria yang ketat. Mereka membuang undi karena memang kedua calon ini sama-sama kuat dan masuk kualifikasi. Jadi buang undi bukanlah jalan pintas (shortcut) karena kita malas bergumul bersama Tuhan! Kalau kita sudah bergumul maka buang undi dapat dipakai Tuhan untuk memberitahukan keputusan yang terbaik. Amsal 16:33, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada Tuhan.” Cerita lain: Francis Schaeffer membuang undi.

Apapun mekanismenya, kita harus menyadari kelemahannya dan berusaha untuk mengantisipasinya.

Mekanisme demokrasi (dalam konteks GKBJ adalah pemilihan berdasarkan suara terbanyak / majority vote) memiliki kelemahan yaitu jemaat dapat memilih berdasarkan kriteria atau motivasi yang subyektif.
  Sejujurnya, tidak semua jemaat adalah pemilih yang dewasa atau mengerti bagaimana memilih dengan baik dan bijak (well-informed voter)!
  Sebenarnya, dalam Perjanjian Lama, justru ada kasus di mana suara terbanyak mendatangkan malapetaka dan tidak berkenan di hati Tuhan. Kisah duabelas pengintai Israel ke tanah Kanaan (Bilangan 13-14). 10 pengintai sepakat mengatakan bahwa bangsa Israel tidak akan bisa masuk ke tanah perjanjian. Hanya 2 pengintai yaitu Yosua dan Kaleb yang berkata sebaliknya bahwa bangsa Israel bisa masuk ke tanah perjanjian dengan pertolongan Tuhan!
  Dalam Perjanjian Baru, tidak pernah ada catatan tentang pemilihan berdasarkan suara terbanyak.

Sebenarnya pemilihan aklamasi (unanimous) jangan-jangan lebih alkitabiah daripada pemilihan berdasarkan suara terbanyak. Contoh: Pemilihan deacon pertama (Kis 6:1-6),

Kriteria yang subyektif / salah dalam memilih:
1.  Popularitas.
  Popularitas tidak sama dengan integritas.
  Kisah: Gereja yang menjadwalkan calon majelis menjadi liturgis beberapa minggu sebelum pemilihan. Pertanyaannya: Bagaimana dengan mereka yang tidak punya kemampuan menjadi liturgis? Kalah populer?
2.  Kedekatan.
  Sahabat, keluarga, atasan.
3.  Sentimen.
  Bisa positif atau negatif.
  Rasa suka atau tidak suka yang murni bersifat subyektif (hanya berdasarkan perasaan). Saudara pernah konflik dengan calon atau pernah dibayarin (hutang budi) terhadap calon.
4.  Kesamaan profil.
  Dari suku, latar belakang ekonomi, latar belakang pendidikan yang sama.
5.  Rasa kasihan.
  Kasihan kalau dia tidak terpilih. Apalagi bila dia sudah beberapa kali menjadi calon majelis dan tidak pernah terpilih.
6.  Stigma/label.
  Stigma terhadap kesalahan atau masa lalu calon majelis yang buruk.

Seni Meratap yang Alkitabiah

(Mazmur 22)

Seringkali di dalam penyembahan, kita hanya menekankan sukacita dan pujian, tetapi mengabaikan dukacita dan ratapan. Padahal kehidupan Kristiani tidak selalu diisi dengan hal yang menyenangkan. Dusta paling besar dan berbahaya dalam iman Kristen adalah menjadi anak Tuhan pasti bebas dari masalah. Apa yang diajarkan Mazmur tentang ratapan? Justru Mazmur melihat ratapan sebagai suatu bentuk penyembahan yang

sangat penting. Bahkan, 2/3 dari kitab Mazmur adalah Mazmur ratapan! Mengapa kita perlu meratap?

1.) Karena dunia ini penuh dengan penderitaan
Roma 8:23, bersama seluruh makhluk kita turut mengeluh dan tidak sabar menantikan kedatangan Kristus kembali untuk memperbaharui dunia yang sudah rusak ini. Penderitaan dalam hidup kita: penyakit, usia lanjut, problem rumah tangga, dll

2.) Karena empati terhadap sesama yang menderita
Roma 12:15, “...menangislah dengan orang yang menangis!”. Banyak orang di tengah penderitaan tidak bisa berdoa. Kita dapat menjadi juru bicara yang menyuarakan isi hatinya kepada Allah!


3.) Karena menyehatkan jiwa
Emosi yang kuat seperti cinta, kebencian, dan kemarahan harus dikeluarkan. Jika dipendam akan menimbulkan banyak masalah psikologis.

4.) Karena melatih kejujuran di hadapan Tuhan
Allah ingin setiap anak-Nya jujur terhadap-Nya. Kita boleh jujur jika kita kecewa terhadap Dia, ketika kita sedih, marah. Mazmur adalah cermin bagi kita. John Calvin mengatakan Mazmur sebagai “the anatomy of the soul”. Prinsipnya sederhana: emosi apa yang terdapat dalam Mazmur, kita boleh utarakan juga kepada Tuhan.

5.) Karena menghubungkan kita kembali kepada Tuhan
Inilah paradoks sebuah ratapan. Dalam ratapan, kita sepertinya marah dan kecewa terhadap Tuhan. Namun, justru dalam saat yang bersamaan, kita berusaha sekuat tenaga untuk tetap percaya kepada-Nya. Dalam hal ini, meratap adalah justru sebuah tindakan iman yang kuat dan jujur. Mengapa? Kalau tidak ada iman, kita tidak akan meratap. Kita akan tinggalkan saja Allah. Ketika kita meratap, di kedalaman hati kita, kita tahu bahwa kita masih membutuhkan dan mengimani Tuhan.


Bagaimana kita meratap kepada Tuhan? Marilah kita ikuti unsur-unsur Mazmur ratapan (perhatikan bahwa unsur-unsur ini tidak selalu ada dalam sebuah Mazmur ratapan):

1.) Unsur Pertanyaan (Ayat 2: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”)
Sifatnya “menggugat” Allah. Pertanyaan ini bersifat retoris yang artinya kita bertanya bukan karena kita sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita melainkan kita merasa fakta iman dan fakta kehidupan tidak sejalan.

2.) Permohonan (Ayat 12: “Janganlah jauh dari padaku..”, Ayat 20: “Tetapi Engkau, Tuhan janganlah

jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!”) Biasanya pertanyaan disertai permohonan. Kalau

hanya pertanyaan, maka ini hanyalah keluhan biasa.

3.) Pencurahan (Ayat 7-8: “Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang

banyak...”) Ini merupakan elemen terpenting dari sebuah ratapan karena di sinilah kita bisa menemukan apa alasan seseorang meratap. Biasanya pencurahan hati ini terdengar sinis dan negatif tetapi ini merupakan ungkapan yang kuat atas gejolak dan tekanan batin yang kuat pula.

4.) Pengakuan/ pembelaan (Maz 51:6: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat!”. Dalam Mazmur 22 kita tidak menemukan unsur ini.

5.) Pengutukan. Ini bagian yang tersulit untuk dipahami dalam sebuah Mazmur ratapan. Dalam

Mazmur ini kita tidak mendapatkan unsur ini. Tapi dalam Maz 69:25: “Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas mereka, dan biarlah murka-Mu yang menyala-nyala menimpa mereka.” Bahkan pada ayat 29, “Biarlah mereka dihapus dari kitab kehidupan...” Bagaimana kita memahami hal ini? Apakah kita boleh mengutuki orang-orang yang berbuat jahat dan tidak adil kepada kita? Pertama, kita harus memahami bahwa konteks Perjanjian Lama adalah bangsa Israel adalah bangsa yang dikuduskan Allah. Mereka seringkali harus berhadapan dengan bangsa lain yang memang memusuhi bangsa Israel.

Namun, pada zaman sekarang, umat pilihan Allah tidak terbatas pada satu bangsa saja. Setiap orang dari apapun bangsa mereka dapat menjadi anak Tuhan. Kedua, teologi musuh iman dalam masa kini harus mengacu pada Efesus 6:12, “...karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging” tetapi melawan roh-roh jahat atau si iblis dan antek-anteknya. Kalau demikian, maka justru kutukan dalam doa kita sangatlah tepat. Kita harus mengutuki iblis dan antek-anteknya. Biarlah iblis dihancurkan dan dibinasakan oleh Allah karena perbuatan iblis begitu kejam dan jahat terhadap anak-anak Tuhan

6.) Pemercayaan. Di sinilah letak perbedaan besar antara ratapan dan keluhan biasa yang dibenci Tuhan. Dalam ratapan kita tetap menaruh iman percaya kita kepada Tuhan (Ayat 25). Ada deklarasi iman di tengah penderitaan kita. Hampir semua Mazmur ratapan ada unsur ini!

7.) Pujian. Akhirnya sebuah ratapan biasanya ditutup oleh pujian dan pengagungan (Ayat 22, 26.)

Apa Kabar Baik atau intisari dari Mazmur 22 ini: Kita meratap bersama Kristus (Ibrani 4:15)!

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Tuhan Yesus pernah menderita. Dia tahu apa yang kita alami. Bahkan, Dia turut merasakan penderitaan dan kesusahan kita.

Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Dilarang Menginjil Tanpa Roh Kudus!

(Kisah Para Rasul 1:8)
Dalam Mat 28:18-20, Tuhan Yesus mengutus dan berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman! Namun, jika Tuhan Yesus sudah naik ke surga, bagaimana Dia menyertai kita yang masih di bumi? Dia menyertai kita melalui Roh Kudus (Yoh 14:16). Kita perlu melihat bagaimana Karya Roh Kudus dan hukum 4K dalam penginjilan:

1.) Roh Kudus Memampukan AGEN penginjilan (Kis 4:31)
Dalam Kis 2:1-13 bercerita tentang turunnya Roh Kudus. Setelah Roh Kudus memenuhi para Rasul (Ay.14), Rasul Petrus berdiri di depan orang banyak dan mulai berkhotbah, melakukan KKR masal pertama. Siapakah Petrus? Dia adalah nelayan dari Galilea. Nelayan pada umumnya tidak berpendidikan, tidak punya kuasa, miskin. Kota Galilea kebanyakan tidak pernah ada orang penting/ besar dari kota itu (Yoh 7) dan Petrus adalah seseorang yang pernah menyangkal Tuhan Yesus.

Namun sekarang, dia berani berdiri dengan lantang dan lancar berbicara tentang Kristus. Apa yang menyebabkan Petrus mampu melakukannya? ROH KUDUS! Hukum Ketergantungan: Ketergantungan kita pada Roh Kudus melebihi ketergantungan kita pada metode atau sarana penginjilan apapun. Bukan berarti metode dan sarana penginjilan tidak penting. Sangat penting! Tanpa Roh Kudus, metode/ sarana apapun tidak akan memiliki kuasa.

2.) Roh Kudus Memfokuskan PESAN penginjilan (Yoh 15:26; 16:14)
Kita perlu melihat kembali khotbah pertama Petrus. Apa tema utama khotbah Petrus? Tidak lain dan tidak bukan adalah Kristus (Ay.32). Fokus penginjilan harus selalu tentang Kristus! Roh Kudus selalu menuntun dan menunjukan kita pada Kristus! Kesalahan yang umum terjadi dalam ibadah penginjilan (KKR) adalah fokus pada: Roh Kudus dan manifestasinya, Kemasan, Pengkhotbah itu sendiri. Hukum Kabar Baik: Tujuan penginjilan (dari sisi kita) bukanlah menghasilkan petobat baru melainkan menyatakan atau memberitakan Kristus/ Injil!

3.) Roh Kudus Memastikan HASIL penginjilan (Kis 13:48)
Perhatikan apa yang terjadi pada pendengar khotbah Petrus. Ay.37, “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu...” Kemudian ay.41, mereka meminta diri dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Ini adalah karya Roh Kudus. Perhatikan bahwa khotbah Petrus begitu sederhana. Menurut ukuran homiletika modern, mungkin khotbah Petrus cenderung membosankan. Tidak ada ilustrasi, tidak ada kutipan, tidak ada humor, dsb Namun, efektif sekali, menghasilkan 3000 orang percaya baru. Dalam hal ini, kita perlu memahami doktrin pedestrinasi. Bahwa Allah sudah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat Allah bahkan jauh sebelum dunia dijadikan. Hukum Ketekunan: Kita terus beritakan Injil dan tidak membiarkan apapun hasilnya mendikte semangat kita!

4.) Roh Kudus Mengendalikan MUSUH penginjilan (Kis 8:1b)
Kis 1:8, Tuhan Yesus berkata bahwa kabar keselamatan akan tersebar ke Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ke ujung bumi. Dalam Kis 8:1, kita melihat betapa janji Tuhan Yesus ditepati. Dan ini terjadi melalui penganiayaan. Bagaimana dengan “ke ujung bumi”? Seorang penafsir mengatakan bahwa “ujung bumi” adalah kota Roma. Karena kota Roma adalah ibukota kerajaan terbesar di luar Israel. Ketika Injil masuk ke Roma, ini tandanya Injil sudah menguasai seluruh dunia kuno saat itu. Dan di mana kita menemukan bahwa Injil sudah masuk Roma? Pada pasal terakhir, Paulus berada di Roma karena dipenjara! Kesimpulannya: Allah dapat mengarahkan semua peristiwa buruk yang dibuat musuh-musuh Kristen justru untuk mencapai tujuan-Nya sendiri.

Hukum Kedaulatan: Kita tidak kehilangan semangat ketika penginjilan menghadapi tantangan dan tentangan yang hebat, atau bahkan tampak “gagal”! Sebagai penginjil, kita bukan seperti duta besar. Duta besar memang diutus tetapi tidak didampingi oleh yang mengutus. Kita lebih cocok seperti penerjemah Presiden atau Raja. Kita pergi berdua dan tidak pernah jauh-jauh dari Presiden atau Raja kita ketika bernegosiasi dengan negara tetangga.

Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Yudas Iskariot "Dekat Tapi Sesat"


(Matius 27:1-10)

Yudas Iskariot adalah orang yang sangat beruntung. Ada beberapa alasan, karena:
1. Dia dipilih secara pribadi oleh Tuhan Yesus untuk menjadi seorang rasul.
2. Dia hidup bersama Tuhan Yesus selama 3 tahun lebih.
3. Dia ditunjuk untuk menjadi bendahara.

Ada 2 teori mengenai pertanyaan: “Mengapa Yudas mengkhianati Yesus?”
Teori karena Yudas tamak (cinta uang)

Teori Yudas memiliki kepentingan “mesias politik”
Kemungkinan teori yang dapat diterima adalah teori mengenai kepentingan politik. Sesungguhnya yang menjadi akar dari dosa Yudas ialah Yudas memaksa Tuhan untuk melayani kepentingan atau agenda pribadi dia (domesticating God).

Ada perbedaan antara Petrus dan Yudas. Cara Yudas “menyelesaikan masalah”: Membiarkan dirinya dihancurkan oleh rasa bersalah dan lari dari tahta pengampunan Tuhan. Yudas akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

PERTANYAAN MENDESAK bagi setiap kita:
1.) Apakah motivasi Saudara dalam mencintai Tuhan dan rajin beribadah?
Yudas dekat dengan Yesus selama 3 tahun lebih, tetapi Yudas memiliki motivasi dan “agenda pribadi” selama dia mengikut Yesus. Apakah kita benar-benar hanya mencintai pribadi-Nya ketika kita kita berkata bahwa kita mengasihi Dia?

2.) Apakah Saudara sudah di dalam keselamatan?
Jika dihadapkan pertanyaan, apakah Yudas diselamatkan? Jawabannya: Tidak! Namun, apakah artinya Yudas kehilangan keselamatannya? Jawabannya juga tidak! Mengapa? Karena seumur hidupnya ia tidak pernah menerima keselamatan dari Tuhan. Faktanya memang menunjukkan bahwa Yudas hidup bersama dengan Tuhan Yesus selama 3 tahun lebih. Ia bahkan melihat sendiri kuasa Tuhan Yesus dan mendengar sendiri pengajaran Tuhan Yesus. Namun, kedekatannya dengan Tuhan tidaklah otomatis memberikannya keselamatan. Ia mengikuti Tuhan Yesus secara fisik namun tidak secara hati. Yudas memang tidak pernah sungguh-sungguh berkomitmen mengikuti Tuhan Yesus sebagai murid yang sejati, walaupun secara lahiriah ia sibuk mengikuti dan menaati Tuhan Yesus. Keaktifan kita terlibat dalam hal rohani atau sudah lama menjadi orang Kristen bukanlah bukti utama bahwa kita murid Kristus yang sejati!

3.) Apakah Saudara memiliki pertobatan yang sejati?
Pertobatan yang sejati tidak cukup berhenti pada rasa bersalah, tetapi bagaimana mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa, itulah pertobatan yang sejati.

4.) Apakah Saudara “menjual” Tuhan Yesus demi hal lain dalam hidupmu? Pengertian “menjual” Tuhan Yesus, dapat diartikan kita rela mengorbankan atau menomorduakan Tuhan demi “sesuatu” atau hal lain. Hal itu bisa karir/ pekerjaan, nilai studi Anda, memilih jodoh/ pasangan, dsb.

Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Salomo Si Bijak Yang Bodoh


(1 Raja-Raja 11:1-13)

Alkitab menuliskan bahwa Salomo adalah Raja yang besar (1 Raja-raja 4:21-34; 6)
Salomo besar dalam kekuasaan
Salomo besar dalam kekayaan
Salomo besar dalam kebijaksanaan
Salomo besar dalam kehormatan

Namun, di akhir hidupnya Salomo mengalami kemunduran rohani yang besar!
Ia melanggar perintah Tuhan (ayat 1-2)
Ia lebih mementingkan hawa nafsunya (ayat 3).
Ia menyalahgunakan kekuasaan (ayat 7-8).
Ia tidak mengutamakan Tuhan (ayat 4-6).

Adapun pelajaran praktis bagi kita belajar dari kegagalan Salomo:
Permulaan yang baik tidak menjamin akhir yang baik.
Semua pemberian yang indah dari Tuhan dapat disalahgunakan
Kompromi terhadap dosa kecil akan membawa kita pada dosa yang lebih besar.
Dosa akan mendatangkan pendisiplinan Allah.
Anugerah Allah selalu tersedia bagi anak-anak-Nya yang berdosa.
Yang terpenting adalah hati yang sepenuhnya mengasihi Tuhan!


Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Top