Slider[Style1]

Style2

Style5

Style4

Dibenarkan Karena Iman

www.renunganhariankristen.com
Sumber: www.renunganhariankristen.com

Roma 5:1-11. Ajaran mengenai ‘dibenarkan karena iman’ bukan hanya terkait dengan kehidupan kekal di surga, melainkan juga berdampak bagi kehidupan seseorang didunia.
  • Pertama, ada damai sejahtera dalam hidupnya. Damai sejahtera ini tentu nampak dalam kehidupannya setiap hari.
  • Kedua, hidup dalam kasih karunia. Seseorang yang hidup dalam kasih karunia tentu juga penuh kasih karunia terhadap sesamanya.
  • Ketiga, tekun dalam menghadapi penderitaan. Sikap iman yang seperti ini tentu juga memberikan inspirasi dan kekuatan bagi orang-orang yang disekitarnya.
Dalam hal apakah semua itu nampak nyata? Semua itu akan nampak nyata justru dari sikap kita terhadap orang-orang berdosa, atau orang-orang yang memusuhi kita. Ingatlah bahwa Allah telah mengasihi kita, bukan setelah kita menjadi orang baik, melainkan sejak kita masih berdosa dan masih menjadi seteru Allah.
Periksalah apakah ketiga hal diatas ada di dalam diri Anda? Jika tidak, mulailah dengan doa ucapan syukur bahwa Anda diselamatkan bukan karena perbuatan baik melainkan semata-mata karena iman didalam Yesus Kristus, dan renungkanlah hal itu sepanjang hari ini. [GKBJ – renunganhariankristen.com]
Note: artikel ini telah dipublikasikan terlebih dahulu oleh situs: renunganhariankristen.com

Kesaksian Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Membaca Alkitab Setiap Hari.


Kalau saya ke gereja, saya masih lebih suka bawa Alkitab yang bahasa indonesia
Bukan bawa di handphone Walaupun di handphone kita ada Alkitab

Suatu kali saya berpikir bagaimana menjelaskan pada anak saya tentang pentingnya membaca Alkitab. Akhirnya kesempatan itu datang ketika anak saya sedang menghadapi ujian negara.

Lalu saya tanya anak saya, “besok ujian apa? kalau besok ujian bahasa Indonesia Apakah kamu belajar fisika malam ini?” Dia bilang “Enggak pa, kalau besok bahasa Indonesia, kita belajar bahasa Indonesia malam ini”.

Terus saya tanya lagi pertanyaan kedua “Gimana kalau gurumu itu bilang begini, besok ujiannya, ga kasi tau kamu pokoknya, besok ujian aja!” Langsung anak saya bilang, “ga fair ga fair, ga fair”.

Kemudian saya bilang “Kalau gurumu memang maksa besok tetap harus datang ujian bagaimana?” dia jawab “Wah kalo gitu kita mesti baca semua, mesti belajar semua”.

Terus saya bilang “Kamu berani engga tidak belajar? Padahal sudah hafal tuh sebab ujian Bahasa Indonesia, berani engga tidak belajar?” Dia jawab “Engga pa, bisa ga lulus”

Lalu saya mulai masuk ke Alkitab, saya bilang kita hidup ini setiap kali kita bangun pagi itu sama seperti kamu teriak gurunya tidak fair. Banyak orang dalam hidup ini berteriak "hidup ini tidak adil buat saya" , "tidak fair buat saya". Kenapa?

Sudah tau hidup ini tidak adil, ujiannya tidak jelas mau ujian apa, setiap bangun pagi kamu masih tidak mau belajar, gimana ngak fair.

Nah itulah kira-kira kehidupan kita, kita setiap kali bangun pagi seperti anak yang menghadapi ujian negara. Kita tidak tahu ini lebih parah daripada sekolah, kalau sekolah empat mata pelajaran, empat mata pelajaran kita masi ingat matematika, bahasa inggris, bahasa indonesia, fisika.

Tapi kalo dalam hidup ini kita tidak pernah tahu pagi ini akan menghadapi orang seperti apa. Kita tidak tahu akan muncul masalah apa. Nah untuk menghadapai ujian hidup seperti itu, Anda berani sekali tidak belajar? karena itulah kita butuh setiap hari baca Alkitab.

Saya mungkin penganut sistem agak kolot, baca Alkitab kalo malam sudah ngantuk, Kita harus memberikan yang terbaik buat Tuhan. Menurut saya yang terbaik itu pas baru bangun tidur ketika staminanya paling baik.

Saya mulai baca Alkitab itu ketika saya baru masuk kuliah, tentu saudara juga jangan anggap saya superman bisa baca habis Alkitab sudah 20-30 kali. Tidak. Waktu baru mulai sama bolong-bolong juga.

Kita selalu disiplin baca Alkitab, Kejadian masi semangat, Keluaran lumayan lah, eh Imamat langsung drop

Lalu mulai cari-cari formula, mulai dari perjanjian baru Matius, Markus, Lukas  ya masih lumayan lah eh begitu masuk ke Roma, pusing luar biasa. Lalu kita mulai loncat lagi masuk ke Kitab Amsal per tanggal 1, 2, 3 ga beres juga.

Terus baca Mazmur, ya minimal baca satu-satu, akhirnya saya baru mulai disiplin, itu karena pergumulan sebetulnya. Kadang-kadang saya juga bingung saya baca saja.

Saya mulai keranjingan baca Alkitab waktu saya kuliah. Waktu saya masi tinggal di Muara Karang, saya bisa sampai merasa tidak mau pindah dari rumah itu walaupun rumahnya kecil. Saya bisa merasa ada Tuhan di sana. Tiap pagi saya baca.

Saya ingat papa saya, waktu itu masih hidup, papa saya waktu itu belum percaya, dia katakan “Eh saya kirim kamu ke Jakarta buat sekolah ya bukan baca Alkitab, mau jadi pendeta lu?” Saya ngak ngerti. Saya baca saja dan saya rasakan Tuhan hadir. Makanya Alkitab berkata kita harus menyembah Tuhan dalam Roh dan kebenaran

Nah bagaimana memulainya? Saya juga memulainya sangat sederhana sebetulnya. Saya dulu suka membaca renungan harian terus loncat ke Our Daily Bread. Kenapa saya butuh baca itu? Karena saya ingin ada penuntun, makanya ada gerakan baca Alkitab ini baik sekali, ada penuntun. Tapi saya ingin sekali, kita bergumul bersama, saling mendoakan. Sumber kita adalah Firman Tuhan.


Gemar Baca Alkitab Gathering, Gereja GBI PRJ
Kesaksian ini diupload secara lengkap di youtube chanel oleh Aldrich Sebastian
https://www.youtube.com/watch?v=Tlt__UhLjeE



Banyaklah berdoa dan menyembah!

Yakobus 5:13 “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!”

Alkitab itu sangat realistis. Dikatakan seperti ini 'Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa,' bukan menyanyi. Tuhan nggak suruh kita ketawa ketika kita sedang di dalam pergumulan. Tetapi, Tuhan juga tidak mau kita putus asa, terpuruk, lalu kecewa dengan keadaan, lalu kehilangan pengharapan. Masih ada doa. Ketika kita berdoa kepada Tuhan, sesuatu akan terjadi.

Dua kata yang paling berkuasa membuka pintu mujizat dalam kehidupan Anda, yaitu doakan saya. Jangan sungkan minta didoakan. Dua kata itu manjur sekali untuk membuat hidup kita diberkati. Jangan ragu, jangan merasa merepotkan orang lain. Baiklah kita saling mendoakan.

Doa ternyata bukan cuma kualitas. Kualitas itu penting, tetapi ada hal yang sama pentingnya yaitu kuantitas. Semakin banyak yang mendoakan, semakin hebat jawaban doa itu. Setiap orang pasti menerima jawaban. Alkitab juga mengatakan “kalau ada seorang yang bergembira, baiklah ia menyanyi! Nyanyi bukan untuk sok-sokan dilihat orang lain atau didengar orang lain, nyanyi adalah kepada Tuhan, itulah inti penyembahan. Tuhan melihat hati.

Mengapa terkadang kita merasa doa kita seakan-akan menguap di udara, tidak terdengar, kita tidak merasakan itu powerful atau ampuh? Karena masih ada perkara dosa yang belum diselesaikan. Kalau ada dosa yang membuat doa itu tidak bisa tembus awan-awan, membuat penyembahan hanya di permukaan lidah bibir kita saja.  Alkitab berkata “hendaklah kamu saling mengaku dosamu”. Tuhan mau supaya kita terbuka. Jika ada di dalam hati seseorang yang belum mengampuni, cepat ampuni. Segera bereskan. Dosa harus diselesaikan.

Banyaklah berdoa dan menyembah. Alkitab berkata, “doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Jadi bukan cuma seberapa besar iman kita dan keyakinan kita akan doa kita, tapi apakah masih ada sesuatu yang mengganjal di hati. Kalau itu dibereskan, doa dipanjatkan dengan tulus, Tuhan tidak akan pernah mengabaikannya. Doa yang kita panjatkan akan sampai ke Tuhan tanpa halangan yang berarti.


Oleh: Philip Mantofa

Surat Gembala: Raising Godly Generation

Membangkitkan Generasi Ilahi
1 Samuel 2:17  Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.  18  Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

Imam Eli membesarkan 3 orang anak,
Dua orang adalah anak kandungnya sendiri Hofni dan Pinehas.  Keduanya demikian jahat dan sama sekali tidak menghormati Tuhan (2:12).   Mereka memerintahkan para pelayan Bait Allah membawa garpu bergigi tiga untuk mengambil daging korban sembelihan yang sedang diolah, dan memakan daging korban yang untuk Tuhan itu (1:13-16).  Jika umat tidak memberikan korban bakaran mereka, tak segan-segan para pelayan Hofni dan Pinehas akan merebut dengan kekerasan.  Sedemikian berani mereka terhadap Tuhan sehingga jemaat merasa ngeri dengan tingkat laku mereka.  Sampai hari ini garpu bergigi tiga menjadi sebuah legenda sebagai senjata yang dipegang oleh iblis sendiri.  Sangat besar dosa kedua kakak beradik ini di hadapan TUHAN, sehingga berani merampok korban untuk TUHAN.   Bukan itu saja, Hofni dan Pinehas bahkan berani melakukan hubungan seksual di depan pintu Kemah Pertemuan (yakni Bait Allah/Rumah Tuhan waktu itu).  Perzianahan yang keji ini tidaklah ditutup-tutupi bahkan tersiar di seantero jemaat (2:22-23).  Segala nasehat ayahnya tidaklah pernah digubris (2:23-25) sehingga sang ayah akhirnya tidak lagi memarahi mereka (3:13).
Satu anak yang lain adalah Samuel, anak sulung Hana dan Elkana dari Rama.  Hana telah meminta anak ini dari Tuhan (1:20) dan bernazar akan membawa Samuel untuk menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya (1:22).  Selama 3 tahun penuh Hana merawat dan membesarkan anak ini dalam doa dan perhatian, dan kemudian menyerahkan untuk dipakai Tuhan sepenuhnya (1:28).  dalam pengasuhan Imam Eli untuk pelayan Tuhan (1:28).  Maka sejak usia 3 tahun Samuel telah memakai baju efod dari kain lenan dan menjadi pelayan di hadapan Tuhan (2:18).  Demikianlah anak itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan imam Eli (2:11).  Dan setiap tahun ibunya datang membawa jubah efod kecil untuk dipakai anaknya (2:19). 
Berbeda dengan dua anak kandung Imam Eli, Samuel kecil bertumbuah semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia (2:26).  Samuel tumbuh dalam kepekaannya terhadap suara Tuhan, sehingga seluruh umat akhirnya tahu bahwa Samuel telah dipercayakan bukan hanya jabatan Imam (2:35a) yang setia pada Tuhan dan setia melakukan firman Tuhan  (2:35b),  namun juga jabatan nabi Tuhan (3:20).  Segala apa yang difrimankan Tuhan atas diri Samuel semuanya digenapi Tuhan (3:19).
Kisah ini sangat menggugah hati saya.  Tiga anak yang hidup satu generasi di rumah Tuhan di Silo di bawah asuhan seorang Imam.   Namun hasilnya demikian berbeda.  Yang dua menjadi gerenasi yang rusak, menghancurkan iman umat Tuhan, menjadi batu sandungan.  Sementara yang satu menjadi generasi ilahi, membangun dan meneguhkan iman umat Tuhan, menjadi kesaksian dan kemuliaan nama Tuhan.

Dalam konteks zaman sekarang, di dalam Gereja yang sama, bisa muncul anak-anak Ilahi namun bisa muncul pula anak-anak yang brengsek. 
Pertanyaannya adalah:  anak-anak macam apa yang akan dihasilkan oleh Gereja kita?
Jawaban pertanyaan ini melibatkan minimal dua unsur penting:
Fakfor orangtua:  apakah memberikan warisan rohani kepada anaknya seperti Ibu Hana dan Bapak Elkana  atau hanya memberikan tradisi ibadah seperti Imam Eli.  Dalam kasus ketiga anak tersebut, faktor orangtua memegang peranan yang sangat penting.
Faktor lingkungan rohani:  apakah bertumbuh dalam atmosfer rohani dan ada seorang mentor yang meneguhkan dan memperkaya iman sang anak.  Dalam kasus ketiga anak tersebut, mereka menerima lingkungan rohani yang sama.  Artinya faktor ini tidak mengambil peranan yang menentukan.
Kenyataannya kita melihat banyak contoh di Alkitab bahwa anak yang menerima WARISAN ROHANI dari orangtuanya akan menjadi GENERASI ILAHI yang luar biasa.  Selain Samuel, kita mendapatkan beberapa Generasi Ilahi lain yang dibesarkan dalam warisan rohani namun dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mengenal Tuhan – yakni: Musa, Daniel, dan Yusuf.

Mari sebagai keluarga kita berlomba-lomba menanamkan iman pada generasi muda.  Dan sebagai keluarga Allah yakni gereja kita tetap menyiram tiap benih iman bahkan menaburkan benih iman, dan selalu meneguhkan memperkaya iman yang ada sehingga banyak generasi muda yang terselamatkan. Amin.


Oleh: Pdt. David N. Purnomo

Seni Meratap yang Alkitabiah

(Mazmur 22)

Seringkali di dalam penyembahan, kita hanya menekankan sukacita dan pujian, tetapi mengabaikan dukacita dan ratapan. Padahal kehidupan Kristiani tidak selalu diisi dengan hal yang menyenangkan. Dusta paling besar dan berbahaya dalam iman Kristen adalah menjadi anak Tuhan pasti bebas dari masalah. Apa yang diajarkan Mazmur tentang ratapan? Justru Mazmur melihat ratapan sebagai suatu bentuk penyembahan yang

sangat penting. Bahkan, 2/3 dari kitab Mazmur adalah Mazmur ratapan! Mengapa kita perlu meratap?

1.) Karena dunia ini penuh dengan penderitaan
Roma 8:23, bersama seluruh makhluk kita turut mengeluh dan tidak sabar menantikan kedatangan Kristus kembali untuk memperbaharui dunia yang sudah rusak ini. Penderitaan dalam hidup kita: penyakit, usia lanjut, problem rumah tangga, dll

2.) Karena empati terhadap sesama yang menderita
Roma 12:15, “...menangislah dengan orang yang menangis!”. Banyak orang di tengah penderitaan tidak bisa berdoa. Kita dapat menjadi juru bicara yang menyuarakan isi hatinya kepada Allah!


3.) Karena menyehatkan jiwa
Emosi yang kuat seperti cinta, kebencian, dan kemarahan harus dikeluarkan. Jika dipendam akan menimbulkan banyak masalah psikologis.

4.) Karena melatih kejujuran di hadapan Tuhan
Allah ingin setiap anak-Nya jujur terhadap-Nya. Kita boleh jujur jika kita kecewa terhadap Dia, ketika kita sedih, marah. Mazmur adalah cermin bagi kita. John Calvin mengatakan Mazmur sebagai “the anatomy of the soul”. Prinsipnya sederhana: emosi apa yang terdapat dalam Mazmur, kita boleh utarakan juga kepada Tuhan.

5.) Karena menghubungkan kita kembali kepada Tuhan
Inilah paradoks sebuah ratapan. Dalam ratapan, kita sepertinya marah dan kecewa terhadap Tuhan. Namun, justru dalam saat yang bersamaan, kita berusaha sekuat tenaga untuk tetap percaya kepada-Nya. Dalam hal ini, meratap adalah justru sebuah tindakan iman yang kuat dan jujur. Mengapa? Kalau tidak ada iman, kita tidak akan meratap. Kita akan tinggalkan saja Allah. Ketika kita meratap, di kedalaman hati kita, kita tahu bahwa kita masih membutuhkan dan mengimani Tuhan.


Bagaimana kita meratap kepada Tuhan? Marilah kita ikuti unsur-unsur Mazmur ratapan (perhatikan bahwa unsur-unsur ini tidak selalu ada dalam sebuah Mazmur ratapan):

1.) Unsur Pertanyaan (Ayat 2: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”)
Sifatnya “menggugat” Allah. Pertanyaan ini bersifat retoris yang artinya kita bertanya bukan karena kita sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita melainkan kita merasa fakta iman dan fakta kehidupan tidak sejalan.

2.) Permohonan (Ayat 12: “Janganlah jauh dari padaku..”, Ayat 20: “Tetapi Engkau, Tuhan janganlah

jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!”) Biasanya pertanyaan disertai permohonan. Kalau

hanya pertanyaan, maka ini hanyalah keluhan biasa.

3.) Pencurahan (Ayat 7-8: “Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang

banyak...”) Ini merupakan elemen terpenting dari sebuah ratapan karena di sinilah kita bisa menemukan apa alasan seseorang meratap. Biasanya pencurahan hati ini terdengar sinis dan negatif tetapi ini merupakan ungkapan yang kuat atas gejolak dan tekanan batin yang kuat pula.

4.) Pengakuan/ pembelaan (Maz 51:6: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat!”. Dalam Mazmur 22 kita tidak menemukan unsur ini.

5.) Pengutukan. Ini bagian yang tersulit untuk dipahami dalam sebuah Mazmur ratapan. Dalam

Mazmur ini kita tidak mendapatkan unsur ini. Tapi dalam Maz 69:25: “Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas mereka, dan biarlah murka-Mu yang menyala-nyala menimpa mereka.” Bahkan pada ayat 29, “Biarlah mereka dihapus dari kitab kehidupan...” Bagaimana kita memahami hal ini? Apakah kita boleh mengutuki orang-orang yang berbuat jahat dan tidak adil kepada kita? Pertama, kita harus memahami bahwa konteks Perjanjian Lama adalah bangsa Israel adalah bangsa yang dikuduskan Allah. Mereka seringkali harus berhadapan dengan bangsa lain yang memang memusuhi bangsa Israel.

Namun, pada zaman sekarang, umat pilihan Allah tidak terbatas pada satu bangsa saja. Setiap orang dari apapun bangsa mereka dapat menjadi anak Tuhan. Kedua, teologi musuh iman dalam masa kini harus mengacu pada Efesus 6:12, “...karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging” tetapi melawan roh-roh jahat atau si iblis dan antek-anteknya. Kalau demikian, maka justru kutukan dalam doa kita sangatlah tepat. Kita harus mengutuki iblis dan antek-anteknya. Biarlah iblis dihancurkan dan dibinasakan oleh Allah karena perbuatan iblis begitu kejam dan jahat terhadap anak-anak Tuhan

6.) Pemercayaan. Di sinilah letak perbedaan besar antara ratapan dan keluhan biasa yang dibenci Tuhan. Dalam ratapan kita tetap menaruh iman percaya kita kepada Tuhan (Ayat 25). Ada deklarasi iman di tengah penderitaan kita. Hampir semua Mazmur ratapan ada unsur ini!

7.) Pujian. Akhirnya sebuah ratapan biasanya ditutup oleh pujian dan pengagungan (Ayat 22, 26.)

Apa Kabar Baik atau intisari dari Mazmur 22 ini: Kita meratap bersama Kristus (Ibrani 4:15)!

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Tuhan Yesus pernah menderita. Dia tahu apa yang kita alami. Bahkan, Dia turut merasakan penderitaan dan kesusahan kita.

Oleh: GI. Jimmy Setiawan

Top